Tragedi Tampomas

Dua puluh delapan tahun yang lalu, hari Selasa 27 Januari 1981 pada pukul
13.42 Waktu Indonesia Bagian Tengah, di perairan dekat kepulauan Masalembu, KMP
TAMPOMAS II milik Pelni yang mengangkut ratusan penumpang perlahan-lahan lenyap
ditelan lautan yang sedang bergolak. Tenggelam untuk selama-lamanya.

Musibah ini terasa begitu menyayat hati karena terjadi secara perlahan-lahan, di
hadapan banyak mata yang telah berjuang keras namun tidak bisa berbuat cukup
banyak.


Hari yang Naas Itu

Tampomas II berangkat dari pelabuhan Tanjung Priok Jakarta pada hari Sabtu 24
Januari pukul 19.00 WIB. Dijadwalkan sampai di Ujung Pandang pada hari Senin
pukul 10.00 pagi. Data yang ada menyebutkan ada 1054 penumpang, 191 mobil dan
sekitar 200-an motor yang berada di atas kapal tersebut.

Hari Minggu malam tanggal 25 Januari sekitar pukul 23.00 WITa Syahbandar Ujung
Pandang menerima berita dari KM Wayabula, bahwa KM Tampomas II terbakar di
perairan kepulauan Masalembu sekitar 220 mil dari Ujung Pandang. KM Wayabula
sendiri mendapat berita dari KM Sangihe yang saat itu tengah berusaha
mengevakuasi penumpang Tampomas II.

Namun cuaca bulan Januari memang tidak pernah bersahabat. Ombak besar setinggi 7
hingga 10 meter, disertai angin kencang 10 hingga 15 knot yang terus menderu,
menghambat usaha penyelamatan. Sehari semalam KM Sangihe hanya mampu memindahkan
149 penumpang Tampomas II ke kapalnya.

Senin malam itu, Sekditjen Perhubungan Laut dalam siaran televisi menyatakan
bahwa KM Tampomas II mengalami kerusakan mesin sehingga harus lego jangkar di
perairan tersebut. Disebutkan juga bahwa sempat terjadi kebakaran, tapi semuanya
sudah bisa diatasi. Kapal masih terapung dan para penumpang juga sudah tenang
menunggu di dek.

Namun nyatanya, pada hari Selasa pagi tampak masih ada asap tipis mengepul di
bagian belakang kapal. Dan siang harinya api membesar kembali. KM Tampomas II
akhirnya miring dan tenggelam dengan cepat di posisi 114°25'60?BT — 5°30'0?LS.Kapal-kapal lain yang berada di sekitar lokasi, KM Sangihe, KM Adiguna Kurnia,
KM Istana VI, KM Ilmamui, KM Niaga XXIX, dan beberapa kapal lain berusaha
semampunya untuk menyelamatkan penumpang Tampomas II yang terapung-apung di laut
setelah melompat dari kapal.

Kapal Bekas yang Kurang Terawat

KM Tampomas II milik Pelni ini baru melakukan pelayaran perdananya pada bulan
Mei 1980. Tapi bukan berarti ini kapal baru. KM Tampomas II dengan bobot mati
2420 ton dan mampu mengangkut penumpang 1250 sampai 1500 orang ini adalah kapal
bekas yang dibeli oleh PT. PANN (Pengembangan Armada Niaga Nasional, BUMN) dari
Komodo Marine Jepang. Dan PT. Pelni membeli secara mengangsur selama sepuluh
tahun kepada PT. PANN. Kapal ini sebelumnya bernama MV. Great Emerald dibuat di
Jepang tahun 1971. Dibeli dengan harga 8.3 juta dollar AS, yang menurut beberapa
pihak terlalu mahal untuk sebuah kapal bekas yang sudah berusia sepuluh tahun.

Begitu dioperasikan, kapal penumpang ini langsung digeber abis untuk melayani
jalur Jakarta-Padang dan Jakarta-Ujung Pandang yang memang padat. Setiap selesai
pelayaran, kabarnya kapal ini hanya diberi waktu istirahat 4 jam saja dan harus
siap untuk pelayaran berikutnya. Perbaikan dan perawatan rutin terhadap mesin
dan perlengkapan kapal pun cuma bisa dilaksanakan sekedarnya, padahal mengingat
usianya kapal ini butuh perawatan yang jauh lebih cermat.

Pada saat pelayaran percobaannya pun, beberapa anggota DPR yang mengikutinya
sempat menyaksikan sendiri dan mempertanyakan mesin kapal yang sering rusak.

Keselamatan Entah Nomer Berapa
Dari data terakhir disebutkan bahwa 753 orang penumpang KM Tampomas II berhasil
diselamatkan termasuk awak kapal. Ditemukan 143 jenazah. Berapa sisanya yang
tidak ditemukan masih menjadi tanda tanya. Penumpang yang terdaftar ada 1054
orang, namun sudah menjadi kebiasaan dan rahasia umum bahwa penumpang gelap yang
naik bisa mencapai ratusan orang. Beberapa sumber menyatakan jumlah penumpang KM
Tampomas II sebenarnya berjumlah 1442 orang. Bahkan koki kapal yang selamat
mengaku diperintahkan atasannya agar memasak untuk 2000 orang.

Penyebab kebakaran masih simpang siur, ada yang mengatakan akibat puntung rokok
di ruang mesin, namun beberapa saksi mengatakan api berkobar pertama kali di
geladak kendaraan. Bahan bakar yang terdapat di setiap tanki kendaraan
menyebabkan api segera membesar dan merembet ke semua dek dengan cepat.

Dan pada saat terjadi kebakaran para penumpang yang selamat mengatakan tidak ada
alarm atau sirene tanda bahaya yang berbunyi untuk mengingatkan penumpang. Yang
ada hanya pemberitahuan melalui pengeras suara agar seluruh penumpang naik ke
bagian atas kapal.

Begitu berada di bagian geladak terbuka, mereka dibiarkan mencari selamat
sendiri2 tidak ada ABK yang membimbing. Bahkan beberapa ABK langsung mencari
selamat sendiri dengan meluncurkan sekoci, diantaranya Mualim II dan Markonis
II. Dari enam sekoci yang ada, yang masing2 berkapasitas 50 orang (!?), hanya
dua buah (!!?) yang berhasil diturunkan.

Yang mengherankan, dalam keadaan darurat seperti itu, KM Tampomas II sama sekali
tidak melakukan kontak radio. Dibilang bahwa semua radio rusak! termasuk yang
cadangan. KM Tampomas II juga tidak menyalakan lampu bahaya atau menembakkan
peluru suar untuk meminta pertolongan kepada kapal2 yang ada disekitarnya. KM
Sangihe yang pertama menemukan KM Tampomas II, baru mengetahui ada bahaya ketika
mendengar bunyi ledakan di Tampomas II yang awalnya tidak dikenali karena tidak
memberikan sapaan lewat radio. Lalu ada apa pula sampai nahkoda kapal Tampomas
II sempat berteriak bahwa telah terjadi sabotase di atas kapal?

Banyak pula muncul pertanyaan, mengapa kru kapal dalam pelayaran itu tidak
lengkap? Hanya ada Kapten, Mualim II dan Markonis II. Mualim I dan Markonis I
sedang cuti dan tidak dicarikan pengganti. Lebih parah lagi Mualim II dan
Markonis II langsung kabur sendiri dengan sekoci hanya satu jam setelah terjadi
kebakaran. Bahkan Markonis II dengan egoisnya membawa radio portabel ke dalam
sekoci tanpa memikirkan bahwa lebih banyak penumpang di kapal yang membutuhkan
pertolongan dari para penyelamat. Saksi bahkan sempat mendengar kemarahan
Nahkoda Capt. Abdul Rivai yang berteriak "Kalau ketemu, saya cekik dia!".

ABK lain yang selamat mengaku kalau mereka tidak tahu cara menurunkan sekoci,
karena selama ini latihan penyelamatan yang ada tidak pernah benar2 dilakukan
dengan lengkap. Hanya formalitas untuk mengisi daftar hadir.

Sementara itu ada lagi pengakuan dari perwakilan pelni di Ujung Pandang bahwa
saat Tampomas II baru terbakar ia sempat mendapatkan instruksi dari Jakarta agar
memberikan keterangan bahwa kebakaran yang terjadi di Tampomas II tidak
membahayakan. Keterangan2 menyesatkan itu menyebabkan beberapa pihak yang hendak
membantu proses penyelamatan mengurungkan niatnya.

Tragis dan Menyedihkan

Berbagai cerita tragis dari penumpang yang selamat pun dituturkan. Ada seorang
ibu yang terjun ke laut dengan anaknya yang masih bayi. Ketika tahu bayinya tak
bernyawa lagi, ia pun tidak berusaha mengapung lagi membiarkan dirinya
tenggelam. Tapi ketika ingat anaknya yang lebih besar masih hidup, ia tersadar
dan berusaha tetap hidup.

Lantai geladak luar kapal yang hanya terbuat dari plat baja tanpa pelapis kayu
juga banyak memakan korban. Banyak penumpang panik yang tidak memakai alas kaki
menjadi korban plat panas yang sedang terbakar itu.

Proses penyelamatan yang lambat dan berlangsung selama 37 jam hingga kapal
tenggelam membuat penumpang yang bertahan di geladak kapal harus bertahan tanpa
makanan dan minuman. Dropping makanan dari udara tidak semuanya tepat pada
lokasi penumpang.

Terlepas dari kepengecutannya karena lari dari tanggung jawab, Mualim II dan
Markonis II yang langsung menurunkan sekoci begitu mengetahui ada kebakaran
ternyata juga harus menjalani penderitaan. Selama 5 hari mereka terapung2 di
lautan di atas sekoci bersama sekitar 80-100 orang lainnya tanpa makanan. Sekoci
yang kelebihan muatan itu bahkan sempat terbalik. Ketika berhasil dikembalikan
ke posisi semula hanya tersisa 70 orang. Pada hari kelima barulah mereka
menemukan daratan yaitu pulau Doang-doangan Sulawesi Selatan. Sesampai di darat
2 orang menghembuskan nafas terakhir.

Capt. Abdul Rivai Sang Patriot

Mungkin yang paling patut dipuji bahkan dijadikan pahlawan adalah Kapten Kapal
Tampomas II ini sendiri. Capt. Abdul Rivai. Komitmen dan dedikasinya sungguh
sangat menggetarkan. Dalam keterbatasannya, dialah yang paling sibuk
menyelamatkan penumpang lain tanpa memikirkan keselamatan dirinya sendiri, saat
ABK lain malah melarikan diri pada saat-saat awal.

Saat kapal sudah mulai miring, Capt. Abdul Rivai masih tampak sibuk membagikan
pelampung ke para penumpang yang tidak berani terjun ke laut.

Bahkan di detik2 terakhir... saat kapal mulai tenggelam.. Capt. Abdul Rivai
masih terlihat berada di anjungan kapal sambil berpegangan pada kusen jendela...

Benar2 seorang kapten kapal yang memegang teguh janjinya untuk menjadi orang
terakhir yang meninggalkan kapal saat terjadi bencana.

Namun malangnya, jenazah Capt Abdul Rivai sempat dikuburkan sebagai orang tak
dikenal. Untunglah dari tim penyelamat ada yang teringat akan cincin bertuliskan
nama Hasanah, istri Capt. Abdul Rivai, yang dikenakan salah satu jenazah tak
dikenal. Jasad Capt. Abdul Rivai akhirnya dimakamkan kembali di taman makam
pahlawan Kalibata Jakarta.

Aksi heroik Capt. Abdul Rivai memberikan inspirasi kepada penyanyi dan penulis
lagu terkenal Ebiet G. Ade untuk menulis sebuah lagu yang didedikasikan kepada
sang Kapten. Di kemas dalam album kelima Ebiet yang diluncurkan di tahun 1982
bertajuk "Langkah Berikutnya". Lagu itu berjudul "Sebuah Tragedi 1981"

Dia nampak tegah berdiri, gagah perkasa
Berteriak tegas dan lantang, ia nakhoda
Sebentar gelap hendak turun
Asap tebal rapat mengurung
Jeritan yang panjang, rintihan yang dalam,
derak yang terbakar, dia tak diam
du du du du du du du du du du du du

Dia nampak sigap bergerak di balik api
Seperti ada yang berbisik, ia tersenyum
Bila bersandar kepadaNya
terasa ada tangan yang terulur
Bibirnya yang kering serentak membasah
Tangannya yang jantan tak kenal diam

Bertanya kepadaNya, "Mesti apalagi?"
Semua telah dikerjakan tak ada yang tertinggal
Geladak makin terbenam, ho harapan belum pudar
Masih ada yang ditunggu mukjizat dariNya
Atau bila segalanya harus selesai
Pasrah terserah kepadaNya

Dia nampak duduk terpekur tengah berdoa
Ia hadirkan semua putranya, ia pamitan
Tanggung jawab yang ia junjung dan rasa kemanusiaan
ia telah bersumpah selamatkan semua
ia rela berkorban jiwa dan raga
du du du du du du du du du du du du

Di tengah badai pusaran air tegak bendera
Ia t'lah gugur begitu jantan, ia pahlawan
Pengorbanannya patut dikenang, jasa-jasanya pantas dicatat
Taburkanlah kembang di atas kuburnya
Berbelasungkawa bagi pahlawan

No comments:

Post a Comment