Novel "Hilangnya Cinta Sejati" oleh Danial BAB IV

Masa-Masa Hitam Dalam Hidupku
Pekerjaan merenovasi rumah nenekku sudah selesai, uangku cukup banyak terkumpul hasil dari upah yang diberikan nenek. Hatiku masih sangat sakit ketika itu, fikiran tidak pernah beranjak selalu memikirkan indahnya memori aku bersama Nuri. Selalu kucoba melupakan kenangan indah tersebut, namun semakin aku melupakan semakin kuat juga kenangan itu tinggal di benakku. Aku merasa hilang dalam terang, merasa kesepian di dalam keramaian.  Hari hari selanjutnya aku lebih sering berkumpul dengan sesama temanku khususnya yang pengangguran. Pekerjaan yang dijanjikan nenek kala itu belum sempat aku datangi, aku beralasan nanti saja nek, aku mau menghabiskan beberapa hari dulu untuk bersantai. Nenekku hanya mengiyakan.  Terus terang sebetulnya aku masih merasa terpukul , rasa menyesak di hati susah untuk hilang, akibatnya aku tidak bisa fokus bekerja, oleh karena itu aku memutuskan untuk tidak bekerja dahulu.

Karena seringnya aku bergaul dengan teman-temanku yang mayoritas pengangguran, akhirnya aku terbawa suasana nyantai, untuk menghilangkan perasaan gundah dan sakit hati aku mulai mencoba meminum minuman keras. Ya walaupun aku tahu sesungguhnya minuman keras hanya menghilangkan ingatan sementara, karena ketika pengaruh alcohol di tubuh kita sirna maka fikiran kita akan kembali normal. Namun karena rasa solideritas kepada teman, akhirnya cukup sulit juga keluar dari dunia itu. Oh ya mulai saat itu aku juga mulai mencoba menghisap rokok, walaupun sebelumnya pernah merokok saat masih duduk di bangku SMA dulu namun sekarang tidak tanggung-tanggung, aku mulai memmbeli rokok dalam jumlah banyak. Satu bungkus habis dalam satu hari.

Lama lama ku berfikir, mengapa sakit cinta diobati oleh minuman, bisa-bisa aku rugi dua kali, Hati remuk kantong pun ikut remuk. Maka dari itu aku mulai mengurangi bergaul dengan anak-anak peminum. Aku mulai berkenalan dengan penjaga keamanan di daerah itu. Sampai suatu saat aku di ajak berkeliling untuk mengontrol kamar kost-kost an di daerah itu.

Dari situ aku mulai mengenal banyak gadis mulai dari karyawan pabrik sampai pelayan toko. Aku mulai kenal dekat dengan. Hati dan fikiranku mulai terobati, rasa sakit kini telah pergi..aku mulai enjoy dengan mengenal lebih banyak wanita meski tidak ada yang spesial, namu itu menjadikan aku cukup beruntung, karena hampir setiap malam selalu ada saja yang minta ditemani untuk membeli  makan malam atau cemilan, dari situ aku sering dapat upah alakadarnya. Aku  bisa bermanja-manja kepada setiap wanita baik single maupun yang sudah mempunyai kekasih. Namun kekasih mereka  tahu kalau aku sering main ke kost wanitanya saat mereka sedang shift. Tapi mereka tahu aku tidak bertindak macam-macam malah bisa dikatakan sebagai penjaga mereka…. Cukup banyak  wanita yang aku kenal dan akrab kepadaku, akan tetapi tidak ada satupun yang menarik hatiku. Bukan karena aku berselera terlalu tinggi (padahal iya) namun mungkin belum saatnya bagiku untuk membuka hati kembali. 

Entah mengapa siang itu aku teringat tentang Solihat mungkin karena waktu itu aku ikut ke tempat kerja temankuYadi, yang kebetulan satu daerah dengan rumah baru  Pak Zakaria, bapaknya Solihat setelah pindah. Mungkin saat itu Solihat kelas 3 SMA atau kuliah semester satu dikarenakan aku dan Solihat hanya terpaut satu tahun dan aku lebih tua darinya. Yad kamu tahu rumah Pak Jaka (panggilan pak Zakaria) kan? Aku mulai bertanya. Yadi menjawab iya tahu, kurang lebih tiga ratus meter dari sini. Yad aku bolehkan minta anter main ke rumahnya nanti setelah pulang kerja? Boleh saja memangnya ada apa kamu mau kesana? Tanyanya.  Kamu masih ingat Solihat kan? Anaknya pak Jaka yang dulu sempat dekat denganku. Aku kangen kepadanya, aku ingin bertemu Yad. Oh ya sudah nanti sore aku antarkan kamu ke rumahnya ya, Yadi menutup pembicaraan.

Singkat kata singkat cerita sore hari sepulang bekerja kami  langsung menuju rumah Pak Jaka. Sesampainya disana kami bertemu dengan ibunya Solihat, dia langsung menyalami kami. Dia kenal kepada Yadi namun sepertinya sudah lupa kepadaku. Yadi pun mengenalkan aku kepadanya. Bu, masih ingat Kepada Galang  tidak? Cucu dari Bapak Toto Kepala sekolah SMA 111? Yang mana ya? Dia balik bertanya. Yang dulu sempat bersekolah di sini dan tinggal bersama keluarga Bapak Toto. Yadi Menjelaskan. O iya ingat, memangnya ada apa Yad? Emm ini orangnya bu, Yadi menunjuk aku. Aku pun hanya mengangguk . Ibunya Solihat langsung memberikan aku pertanyaan-pertanyaan klasik sebagai mana halnya orang yang sudah lama tidak berjumpa, namun sebelumnya kami sudah dipersilahkan masuk dan duduk di ruang tamu. Setelah dibuatkan minum dia bertanya kembali kepada kami, sebetulnya apa maksud kedatangan kalian kemari? Aku pun menjawab dengan sedikit malu-malu, tapi aku sangat tahu sifat dari ibu nya Solihat. Dia sangat suka dengan orang yang terbuka dan tidak pernah melarang anaknya untuk berteman dengan siapa saja asalkan itu masih dalam batas norma adat. Yah makanya dahulu aku sering main ke rumahnya untuk mengajak solihat jalan-jalan, padahal usia kami saat itu masih SMP dan Solihat masih kelas enam Sekolah Dasar. Karena itulah aku langung menutarakan maksud kedatangan kami ke rumahnya saat ini.


Saya rindu kepada Solihat anak ibu. Maksud kedatangan kami kemari ingin bertemu dengannya, barangkali Solihat tinggal disini. Ohh begitu ya, tapi sayang Solihat masih tinggal bersama neneknya di Kota Bogor, ya paling-paling dia datang kesini saat liburan sekolah, Ibunya Solihat menjelaskan. Beberapa bulan yang lalu Solihat berkunjung kemari dan mengisi liburan disini. Lanjutnya. Atau kalau mau kalian ibu kasih alamatnya di Bogor sana, kalian boleh main kesana. Ibunya Solihat menuliskan alamat di secari kertas lalu diberikan kepadaku. Aku membacanya sebentar lalu memasukkan kertas tersebut ke dalam saku celanaku. Teria kasih bu, Insya Allah kapan-kapan jika ada waktu saya akan berkunjung kesana. Ya saya rasa saya sudah harus pamit bu, sekali lagi terima kasih, dan maaf sudah merpotkan ibu. Kami bersalaman lalu Aku dan Yadi pergi meninggalkan rumahnya.

Cara Penyetekan Tanaman Dengan System Mistroom


Ada beberapa cara orang melakukan penyetekan, mulai yang sederhana,  system sungkupsystem ini   bisadibagi menjadi dua, yang pertama secara individual dan  kedua secara comunal, dan yang sedikit modern, system mistroom.

Tanaman yang sudah berhasil, diantaranya, stek jambu air citra, stek jambu bol jamaika, stek lengkeng, stek apel india ,stek beach cherry, stek mirackle fruit,stek jambu biji , stek kupalanda / stek anggur brazil / stek jaboticaba , stek durian , stek srikaya new varietas ….

Mungkin kita sudah mengetahui cara penyetekan dengan cara sederhana, maka dari itu disini saya hanyaakan "memposting" penyetekan tanaman dengan cara yang modern saja yaitu system mistroom. Berikut ini langkah-langkah dan bahan apa saja yang dibutuhkan dalam melakukan penyetekan mistroom:

Bahan pembuatan mistroom,

A. Ruangan
1.Paranet
Gunakan paranet 75%, paranet berguna  sebagai penghalang matahari     langsung dan hama  penyakit, di ruang mistroom.

B. Irrigation System
1.Pompa
Pompa 250w, untuk 60m2.

2.Pipa dan fitting
mistter 30 buah, electric  valve 1 buah, pipa dan fitting
     

           Gbr.mistter                         Gbr. electric valve

3.Controler

Timer H3CR(Omron) 2 buah, timer24 jam 1 buah,  Trafo 5A
( in 220vac out 24vac) 1 buah, kabel , box panel
        
            Gbr. H3CR                         Gbr.Timer 24 jam              Gbr, trafo
                                                            Gbr. Wiring diagram.

4. Alat dan bahan,

    
Gbr.1  Alat yang di gunakan di antaranya gunting dan pisau, gunakan gunting yang tajam agar menghasilkan potongan yang sempurna.

Gbr.2  Bahan media yang di gunaka adalah oasis basah. Jika tidak ada, bisa menggunakan sekam bakar,cocopit, pasir (pasir malang) sebagai pengganti, dengan perbandingan 3;2;1.

Gbr.3  Ada dua macam hormon yang digunakan, yang pertama berbentuk bedak (rapid root ) produk ini banyak di jual di pasaran,dan kedua yang berbentuk cair, ini produk sendiri (istana alam) dengan bahan aktif IAA ( Idol Asetat Acid ) ditambah makro dan mikronutrient +Vitamin B1 dan Bakterisida.

    
Pengambilan pucuk tanaman sebaiknya di lakukan di pagi hari, pilih pucuk tanaman dorman atau masa inaktif.

    
Jika pucuk tanaman diambil dari  jarak yang jauh, untuk menjaga kelembaban , kita gunakan koran ( diberi cipratan air oleh tangan) sebagai media, dan dimasukan ke styrofoam box.

    
Potong pucuk seperti gambar ( satu knot/buku jika jenis tanaman yang mempunyai knot panjang , banyak knot jika tanaman yang mempunyai knot/buku yang pendek, seperti jaboticaba ), kira- kira sepanjang 3 sampai 4cm.
Potong sebagian daun jika tanaman yang mempunyai karakter daun besar, kurangi daun  jika tanaman yang berkarakter kecil.

    

Gbr.1. Campur hormon akar (cair) , 10cc/4liter air.
Gbr.2. Rendam pucuk/ hasil stekan .
Gbr.3. Colek ujung stekan ke hormon akar ( bedak).

    
Gbr. 1. Tancapkan stekan ke oasis
Gbr.2. Taruh di tray semai
Gbr.3. Taruh di mistroom

    
    
    
Ganbar di atas bearti sudah di pastikan stekan kita berhasil.

    
Gbr. 1. Poting hasil stekan dengan media tanam sekam bakar dan cocopit (2:1 ), setelah di pot,taruh kembali di mistroom, biarkan sekitar satu minggu . Jika sudah terlihat ada pertumbuhan (akar menjalar di media baru ) keluarkan dari mistromm dan taruh ditempat teduh ( dibawah net 75% ), siram 2 kali dalam sehari.
Gbr.2. Jika sudah ada tanda tanda pertumbuhan seperti gambar di atas, taruh di bawah matahari langsung.
Gbr.3. Tanda jika stekan tumbuh optimal.

  
Gbr.1. Dengan melihat pertumbuhan akar kita bisa simpulkan hasil stekan tumbuh optimal, dan siap di repotting.
Gbr.2. Tanaman dalam masa growing.

untuk menanyakan atau ingin mengetahui lebih jelas tentang  cara-cara stek mistroom, silahkan masuk ke halaman *sumberhttp://tamanpratama.wordpress.com



Novel "Hilangnya Cinta Sejati" Oleh Danial Bab III



Masa –Masa dalam Keputus Asaan
Beberapa bulan aku mersa menikmati kehidupanku, kurasa lengkap kebahagiaan saat itu. Tidak banyak yang tahu kalau aku sedang menjalin hubungan asmara dengan Nung ( Nuri ku sayang) , terlebih teman-temanku yang perempuan. Saat itu aku sering curhat untuk menceritakan semuanya hanya kepada tante Novi, ya karena dia cukup dekat denganku dan mungkin karena usia yang hanya terpaut lebih tua tiga tahun dengan usiaku.

Pada suatu hari Leli teman dekat Nung, meminta aku untuk mengantar dia pergi ke sebuah mini market namun tanpa sepengetahuan Nung. Jarak mini market tersebut sebetulnya tidak jauh dari tempat kami tinggal namun cukup jauh apabila berjalan kaki. Tetapi anehnya Leli  ingin kita berjalan kaki saja, akupun menuruti kemauannya hitung-hitung refreshing melihat keadaan sekitar komplek.

Diperjalanan tak kusangka Leli menanyakan soal hubungan ku dengan Nung, Karena kami cukup akrab akhirnya aku ceritakan semuanya, Namun sebelumnya aku bertanya ke Leli, kenapa memang, ada apa tiba-tiba kamu menanyakan soal itu? Aku hanya ingin tahu saja karena kalian tidak pernah memberitakan nya apalagi merayakannya dengan mentraktir teman-teman, dia berkata sambil bercanda. Aku mulai bercerita tentang hubunganku dengan Nung, Tanpa menyangkal atau menyela, Leli hanya mendengarkan cerita aku sambil sesekali menganggukan kepala tanda dia memahami sesuatu yang aku terangkan . tidak terasa kami sudah sampai ke mini market yang dituju. Kami sibuk memilih barang yang akan dibeli, setelah semua lengkap kamipun  pergi ke cashier untuk melakukan pembayaran. Saat membayar barang yang kami beli, Leli menambahkan dua buah coklat ukuran sedang , sama ini ya mba? Dia memberi tahu kepada petugas cashier. Satu buah coklat tersebut diberikan kepada ku. Nih Lang  untuk kamu satu buah.

Setelah semua selesai kami pun beranjak pulang. Teruskan dong Lang ceritanya Leli meminta kepadaku. Ya sudah Cuma seperti itu cerita kita, jawabku pendek. Jadi sampai sekarang kalian masih jalan? Ya iya lah kita sih ga ambil pusing apa yang sedang kita jalani, toh kita masih muda, kita enjoy aja, kata aku. Tap Lang… sambung Leli seakan ragu-ragu untuk meneruskan pembicaraannya. Tapi apa? kamu iri sama kita? Ihhh siapa juga kali yang  iri, aku sih enjoy dengan kesendirianku toh masih banyak teman yang mau perduli dan sayang sama aku, jadi I am single and I am happy celotehnya. Bukan itu maksudku Galang, Apa kamu tidak pernah menanyakan kepada Nung tentang kisah dia yang sebenarnya? Tentang apa, aku bertanya. Tentang kekasihnya?

  Aku sempat kaget mendengar apa kata Leli, memang selama ini Nung punya kekasih?  Iya Lang, sudah ukup lama mereka berpacaran, kurang lebih dua tahun lah. Tapi kenapa aku tidak pernah bertemu dengan kekasihnya, padahal sesering itu aku apel ke rumahnya dan sering pula kita hang out bareng. Yang benar saja kamu Leli, jangan mengarang cerita kata ku dengan perasaan berdebar-debar. Iya bener Lang, Nung sudah punya kekasih, bahkan mereka satu kantor, pulang kerja pun mereka selalu bareng. Pernahkah kamu main kerumah Nung di hari minggu siang? Tanya nya. Pernah sekali sebab aku kan masih sibuk dengan renovasi rumah Nenek ku itu.. Ya pantas saja Lang, karena kekasih Nung itu selalu main kerumahnya di hari Minggu dan tidak pernah malam hari disebabkan rumahnya yang cukup jauh.

Perasaanku seakan tersambar petir waktu mendengar semua penjelasan Leli . Tapi aku tidak bisa begitu saja mempercayai ucapannya, namun aku berjanji kepadanya apabila aku bisa membuktikan Nung sudah mempunyai kekasih, aku akan mengakhiri hubungan ku dengan nya. Hari demi hari masih seperti biasa aku masih memberikan perhatian kepada nung tapi disamping itu aku selalu menyelidiki tentang kekasihnya. Maksudku apabila memang Nung sudah mempunyai kekasih dan hubungan mereka baik-baik saja maka aku harus merelakan untuk melepaskan dia. Mustahil aku tanyakan secara terus terang kepadanya, karena dia selalu berkata hal yang sama yaitu dia tidak mempunyai pacar.

Suatu saat di hari minggu aku menyuruh Yadi, teman dekatku untuk mampir ke rumah Nung dengan alasan hanya mampir saja. Ternyata benar dirumah Nung ada seorang laki-laki yang sedang asik ngobrol dengan Nung. Dari situ aku mulai mempercayai keterangan Leli tempo hari. Aku pun Suruh Yadi untuk nongkrong di pinggir jalan dimana tempat nung selalu turun dari bis. Apakah dia selalu bareng dengan laki-laki yang sama dengan yang selalu main ke rumah Nung di Hari Minggu? Dan ternyata benar Selama tiga hari berturut-turut nung selalu pulang bersama laki-laki tersebut, walaupun laki-laki itu tidak ikut turun dari bis.

Belakangan aku tahu laki-laki itu bernama Mul. Karena aku kira sudah cukup bukti maka malam itu aku berniat main ke rumah Nung dan akan aku tanyakan sekali lagi perihal laki-laki yang tidak lain adalah Mul. Sesampainya di rumah Nung, aku tidak menunjukkan muka mencurigakan, seperti biasa aku sapa dia penuh kehangatan. Dia seperti biasa langsung membuatkan aku minum. Saat itu perasaanku sungguh berkecamuk, marah bercampur rasa sayangku kepadanya yang sudah terlanjur mendekam di dalam hati selama beberapa bulan terakhir

Tidak lama Nung datang dengan membawa dua  buah gelas yang masing masing berisi teh hangat dan kopi hitam. Sambil tersenyum dia mempersilahkan aku untuk minum. Makasih sayang ucapku hambar karena perasaan kecewa mulai mengusai hatiku. Loh kok bilang sayangnya seperti tidak ikhlas sih? Nung bertanya..Tidak banyak cerita akupun langsung mencicipi kopi yang ia buat. Memang dari  awal sampai saat itu kalau aku main ke rumah nya, dia selalu membuatkan aku minum, aku kagum sama dia perhatian dan cintanya terhadapku aku rasakan sangat besar seakan hanya tercurah kepadaku saja, maka dari itu aku tidak pernah berfikir kalau dia sebetulnya sudah punya kekasih, sungguh naïf.

Setelah meminum sedikit kopi panas, aku mulai berbicara dengan sedikit menyelidik dan tutur bahasa yang halus namun serius akupun bertanya. Sayang, seandainya aku jatuh hati dengan wanita lain dan wanita tersebut menerima cinta ku, bagaimana perasaan kamu sebagai pacarku? Nung merasa kaget dengan pertanyaan ku itu, entah dia sudah bisa membaca arah pertanyaanku ataukah dia tidak pernah memikirkan hal itu, dia pun berkata, namun bukan jawaban yang aku dapatkan melainkan pertanyaan balik. Memangnya kamu sedang dekat sama gadis lain sayang? Dengan nada pelan dan seperti mau meneteskan air mata. Akupun tetap bertanya kepadanya dengan pertanyaan yang sama. Dan dia hanya menjawab aku pasti sedih..terlihat air mata menetes di pipinya…

Ohh Tuhan ini sungguh pilihan yang berat bagiku, disamping aku tidak ingin kehilangan dia namun aku harus konsekwen jangan pernah merebut kekasih orang lain. Hal seperti ini belum pernah aku alami sebelumnya. Aku memang bukan laki-laki yang tega saat melihat wanita menangis di hadapanku, andaikan aku tidak bisa memberi perlindungan atau ketenangan kepadanya, aku bisa ikut menangis. Memang orang yang saat itu menangis di hadapanku adalah orang yang sudah menyakiti hati dan perasaanku, namun orang itu pula lah yang selama ini menjadi motivasi bagiku.

Akhirnya dengan berat kupeluk dia, sambil berkata Nung kamu tahu perasaanku saat ini? Aku sungguh kecewa sama orang yang paling aku sayang, karena ternyata kasih sayang orang tersebut bukan hanya untukku… Nung berusaha melepaskan pelukanku dan sedikit marah dengan tangisan yang mulai mengeluarkan suara terisak. Aku coba menenangkan dia sambil tetap mendekap mesra tubuhnya, dia tetap membenamkan wajahnya yg basah oleh air mata di dadaku..Nung, kamu berhasil membuat aku jatuh hati kepadamu, kamu berhasil mencuri seluruh perhatianku, namun kamu juga telah berhasil merobek hatiku sayang. Mulai saat ini mungkin aku tidak akan pernah menginjakkan kaki di tempat yang aku sukai ini, bukan karena aku sudah tidak mencintai orang yang punya tempat ini, bukan karena aku sudah tidak menyayangi orang tersebut..tapi karena aku ingin menjaga perasaan orang lain. Aku tidak akan meminta kamu untuk memilih aku atau dia, Karena andaipun kamu memilih aku, aku tidak akan sampai tega menyakiti dia..Kalau tidak salah namanya Mul kan? Mulyanto? Tanyaku

Nung mulai memberotak sekuat tenaga ingin melepaskan pelukanku, namun untuk kesekian kali nya aku bisa menenangkan hatinya..sayang mungkin ini adalah pelukan sayangku yang terakhir aku harap jangan kamu membenci aku karena aku mundur dari jalan ini, dan asal kamu tahu akupun tidak akan pernah membenci kamu, meskipun kamu telah menyakiti perasaanku. Tanpa bicara sepatah katapun Nung tetap bersandar di dadaku dengan menutupi wajahnya dan sambil terisak. Sayang aku aharap kamu kembali kepadanya, tolong berikan kembali semua cinta dan sayang kamu kepadanya yang selama ini sudah kau berikan kepadaku..dia hanya terdiam. Sayang untuk yang terakhir kalinya menutup kisah kita izinkan aku kecup keningmu. Dia pun menengadah dan sudah bisa bersikap tenang. Terlihat matanya yang sembab basah oleh air mata yang masih mengalir. Lalu aku kecup keningnya sambil memejamkan mata membayangkan manisnya kasih sayang dia selama ini aku berkata..selamat tinggal sayangku kembalilah kepadanya..lupakan semua tentang kita namun jangan kau benci aku, maafkan semua kesalahanku saat aku masih disisimu.

Dengan perasaan remuk aku meninggalkan tempat terindahku saat itu dan tidak lupa untuk menghabiskan sisa kopi untuk menenangkan fikiran. Aku berusaha untuk tidak menoleh ke belakang, karena aku tahu dia pasti melepasku dengan pandangan sedih.
   

    Kau dihatiku, Slalu menjadi pujaanku
    Kau di jiwaku, Mengalir di dalam darahku
    Yang terdalam, Yang  pernah kurasakan
    Yang indah, Yang takkan kulupakan
   
    Tapi takkan kumiliki, Semua cinta didirimu
    Karna kau telah memilih satu cinta
   
    Ku tak ingin, Hancurkan rasa di hatimu
    Ku tak ingin, Hancurkan persahabatanku
    Kau memulai, Dua cinta yang kau jalani
    Dan tak akan lagi Ku harapkan cintamu
   
    Aku takkan memiliki, Semua cinta didirimu
    Karna kau tlah memilih, Satu cinta
    Semua kan jadi kenangan, Yang tersimpan dalam hidupku
    Yang tak pernah terjadi, Saat cinta seperti dulu



Ukiran Unik Dari Akar Bambu


Selama tujuh tahun terakhir, seniman asal Vietnam, Huynh Phuong Do, telah mengukir beberapa tokoh sejarah pada akar bambu. Hasil karyanya ini membuatnya menjadi populer di Vietnam.

Phuong Do telah mengukir di kayu sejak berusia 15 tahun. Ketika dia tinggal di Hoi An, Vietnam, Phuong sangat dikenal sebagai “Vietnam Bamboo Village”.

Karya-karyanya yang unik ini terispirasi ketika tujuh tahun silam, saat banjir di hulu Sungai Thu Bon membawa beberapa akar bambu sampai ke depan rumahnya. Kemudian dia mengambil beberapa akar bambu dan mengukirnya menjadi sebuah patung. Demikian dilansir Oddity Central, Sabtu (29/6/2013). 

Sejak saat itu akhirnya Phuong Do memiliki showroom patung sendiri dan karya-karyanya dapat ditemukan di lebih dari 20 toko souvenir di kota Hoi An, Vietnam.

Dia menghabiskan seluruh hari-harinya untuk mengukir akar bamboo dan membuatnya seperti wajah manusia. Phuong Do membuat ukiran pada akar bambu sebanyak 200 dan 300 buah per bulan untuk memenuhi permintaan dari wisatawan.

Selain tokoh-tokoh terkenal seperti Bodhidharma, Lohan, Guan Yu atau Zhang Fei, pematung berbakat ini juga mampu mengukir wajah pembelinya pada akar bambu tersebut.  (faj)






Kisah Unik Sukarnah, Gadis Ciamis Peraih Medali Asian Games 1958 Yang Berubah Menjadi Laki-Laki

Dulu ia dipanggil sebagai Sukarnah. Nama gadis Ciamis ini pernah pernah sangat terkenal pada tahun 1958, ketika menjadi satu-satunya atlet (puteri) tanah air yang menerima medali pada perhelatan Asian Games di Tokyo. Kepulangannya ke tanah air pada saat itu dielu-elukan bak kehadiran pahlawaan dari medan perang.

Kenangnya seperti ditulis di laman Kick Andy, "Pada saat menerima tim atlet Indonesia, Bung Karno menepuk pundak saya dan mengatakan saya sudah berjasa bagi bangsa dan Negara." Pujian dari kepala Negara itu sudah cukup berarti bagi Sukarnah. "Saya bangga sekali waktu itu. Saya tidak mikir untuk mendapatkan penghargaan macam-macam. Saya membela Indonesia dengan semangat nasionalisme," dia menegaskan.

Bagaimana kisah Sukarnah yang sekarang berubah nama menjadi Iwan Setiawan? Sebuah tulisan pada laman blog Kampungku yang dipublikasi oleh Kang Uyun, seorang blogger dari rancah Ciamis, mungkin akan mengingatkan kembali perjalanan hidup yang unik tapi nyata ini.

Nama Sukarnah kembali populer saat Menpora Adhyaksa Dault membagikan 44 rumah seharga Rp100 juta kepada atlet dan mantan atlet berprestasi. Mengapa Sukarnah berubah menjadi laki-laki dan berganti nama Iwan Setiawan?

DUA foto Presiden RI pertama, Ir. Soekarno, tergantung di atas pintu sebuah rumah di Dusun Noong, Desa Sukahurip, Kecamata Cisaga, Kabupaten Ciamis.

Meski foto itu agak lusuh dimakan usia, ketampanan wajah Soekarno yang konon selalu memikat wanita itu seolah menjadi satu-satunya pemandangan menarik di rumah yang dindingnya sebagian batu bata dan anyaman bambu tersebut.

Beberapa bagian dinding rumah yang terbuat dari batu bata retak di sana-sini. Pun demikian bagian dinding yang terbuat dari anyaman bambu, banyak berlubang. Tidak ada barang berharga di rumah tersebut. Ada televisi hitam putih keluaran 1980-an, namun sudah tidak bisa lagi digunakan untuk menyaksikan sinetron yang kini kian marak.

Deretan kandang ayam dari bambu yang berada di sebelah timur rumah tampak reot. Kandang kira-kira mampu menampung 50-an ekor ayam. Namun, hanya satu yang betina hitam yang tersisa di salah satu sudutnya. Merebaknya flu burung membuat sang pemilik menjual ayam-ayamnya.

Adalah Iwan Setiawan (67) yang menghuni rumah tersebut. Di bangunan yang memiliki dua kamar tidur, ruang tamu, dan dapur tersebut, dia menghabiskan sisa hidupnya ditemani istri tercinta, Tuti Pudji Astuti, beserta putra dan menantunya.

Seperti halnya Soekarno yang selalu tampak gagah dalam bingkai foto di rumahnya, Iwan tidak pernah mengeluh dengan kehidupannya yang serba kekurangan. Padahal, dia adalah salah satu atlet terbaik yang dimiliki Indonesia.

Pada tahun 1958 dia berhasil meraih medali perunggu Asian Games III di Tokyo dari nomor lempar lembing dengan lemparan sejauh 45,3 meter. "Prestasi itu saya rebut ketika masih menjadi wanita dan bernama Sukarnah. Secara ajaib saya berubah menjadi laki-laki pada akhir 1980," kenang Iwan.

Karnah, demikian nama lahir Iwan, merupakan sulung dari tujuh bersaudara pasangan Sukarta dengan Mury. Dia dilahirkan 1 Februari 1940 di daerah Rancah yang berdekatan dengan tempat tinggalnya saat ini.

Karnah beruntung karena orang tuanya petani yang cukup berada. Ketika usianya sembilan tahun, dia bersekolah di Sekolah Rakyat (SR) Pagambiran di Cisaga. Karnah menjadi ”orang langka” karena bisa melanjutkan ke SGB (Sekolah Guru B) II Ciamis. Saat itu sangat sedikit gadis kampung yang bisa melanjutkan sekolah setelah SR.

"Saya termasuk gadis yang enerjik. Saya bisa hampir semua cabang olahraga, mulai bola keranjang, kasti, sampai pancalomba (atletik)," kisah Iwan.

Tidak sebatas hobi, dia pun mampu menjadi juara di kejuaraan tingkat Provinsi Jawa Barat (Jabar) pada tahun 1956 di Garut. Sukses itu membuatnya masuk skuad Jabar dalam PON IV 1957 di Makassar.

Letnan Evo, pejabat Pengda PASI Jabar kala itu, menarik Karnah untuk masuk pemusatan latihan daerah. Dia pun sukses memborong gelar di nomor pancalomba yang mencakup lari 100 meter, lompat jauh, lompat tinggi, lempar lembing, dan lempar cakram di PON IV.

Karnah jadi terkenal di Bandung. Ketika lulus tahun 1958, seorang pengusaha batik asal Bandung bernama Sukarna Saputra mengangkat Karnah sebagai anak asuh. Karnah kemudian diboyong ke Bandung untuk melanjutkan sekolah di SGPD (Sekolah Guru Pendidikan jasmani). Nama Karnah diganti mirip bapak asuhnya, Sukarnah.

Pergantian nama itu menandai babak baru kehidupannya. Setelah menjadi juara PON, Sukarnah diorbitkan ke ajang internasional. Dia mulai tergabung dalam program pemusatan latihan nasional (pelatnas) di Jakarta.

Johans Edward Willem (JEW) Gosal, pelari pria 100 m, adalah salah satu rekan pelatnas Sukarnah. Gosal saat ini masih aktif sebagai pengurus KONI Pusat. "Saya dulu berlatih di Lapangan Banteng, menginap di rumah Letkol Irwadi yang berada di depannya. Kini rumah tersebut menjadi Hotel Borobudur," papar Iwan.

Bergabung pelatnas, kemampuan Sukarnah makin terasah. Dia berhasil membukukan rekor nasional lempar lembing baru sejauh 37,6 m. Atau, lebih baik dari rekor sebelumnya atas nama Ny. Saleh Harusman yang membukukan lemparan 31 m.

Sukarnah pun lolos seleksi untuk masuk tim Asian Games 1958. Dari sekitar 100 atlet yang dikirim, hanya dua dari cabang atletik. Sukarnah dan Kopral Marijo yang tampil di nomor lari 100 meter pria. Marijo hanya mampu menduduki peringkat kelima, sementara Sukarnah berhasil merebut medali perunggu.

"Saya mendapat sambutan luar biasa ketika kembali ke tanah air. Disambut Pak Karno beserta menteri dan para tokoh seperti Pak Soebandrio dan Pak Nasution. Pak Karno menginstruksikan pada gubernur Jawa Barat untuk memberi saya rumah," kenang Iwan.

Perunggu Asian Games IV ternyata menjadi puncak karir Sukarnah. Setelah itu dia sering sakit rematik. Dia lebih memfokuskan energinya untuk menyelesaikan sekolahnya di SGPD. Pada 1962 dia melanjutkan sekolahnya di Fakultas Sosial IKIP Bandung. Dia pun menikah dengan seorang pria Bandung bernama Karya Natasasmita.

Di IKIP, dia terpilih sebagai ketua bidang Hubungan Masyarakat (Humas) Dewan Mahasiswa (Dema). Sikapnya yang mengidolakan Soekarno mendorongnya menjadi orator yang cukup ulung. Karena itu, dia diposisikan sebagai Humas.

Saking cintanya pada Soekarno, Surkanah bergabung dalam barisan pendukung Soekarno. Aktivitas inilah yang kemudian membuat kehidupan Surkanah penuh nestapa.

Ketika Soekarno jatuh yang diikuti penumpasan terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI) pasca G30 S/PKI, Surkanah ikut kena getahnya. Dia menjadi korban perubahan besar politik dan disebut-sebut antek PKI. "Semua penghargaan dan sertifikat saya ikut terbakar ketika rumah bapak saya di Bandung dibakar orang tahun 1966. Tak banyak yang saya bisa selamatkan," tutur Iwan.

Hanya beberapa barang yang selamat. Antara lain lembing yang dipakainya di Tokyo, Jepang, pada 1958 dan dua foto Soekarno yang saat ini menempel di dinding rumahnya.

Sukarnah juga sempat dipenjara di Kebonwaru, Bandung, tahun 1965. Di sana ia memutuskan bercerai dengan Karya Natasasmita. "Saya tidak ingin dia terlibat. Dulu, yang berkuasa adalah telunjuk. Orang mudah menyebar fitnah sebagai anggota PKI. Karena itu, saya memilih cerai," kisahnya.

Pada 1966 Surkanah kembali menghirup udara bebas. Dia menjalani hidup secara normal. Selain sempat menjadi guru di SMA Negeri 3 Bandung, ia sempat bekerja sebagai salah satu pengajar di Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) Bandung.

Namun, gerakan Malari kembali menyeretnya ke balik terali besi. Ketika meletus peristiwa Malari 1974, dia kembali ditangkap. "Kami, pengikut Soekarno, banyak yang ikut protes. Saya pun akhirnya kembali dijebloskan ke tahanan sampai tahun 1978," lanjutnya.

Selepas dari penjara, Sukarnah kembali menikah dengan pria asal Rengasdengklok, Ganda Atmadja. Namun, perkawinan itu hanya bertahan selama dua tahun. Kala Sukarnah berubah menjadi pria tahun 1980, Ganda pun menceraikan Iwan.

"Peristiwa itu terjadi saat saya berziarah ke makam Bung Karno di Blitar pada 1979. Bersama rekan saya, Fatimah, saya bermalam di sana. Nah saya mimpi bertemu Bung Karno. Dia memberikan saya uang lima rupiah untuk beli obat," paparnya.

Dalam mimpinya, ia akan ke apotek. Tapi, dia malah kesasar ke sebuah gunung. Di sana, ia kembali bertemu Soekarno. "Soekarno bersama seorang wanita yang katanya adalah calon istri saya sekarang ini," tambahnya.

Setelah mimpi itu, Sukarnah mengaku mengalami perubahan pada fisiknya. Lambat laun, kedua payudaranya mengempis. Begitu juga dengan alat vitalnya, berubah bentuk seperti yang dimiliki laki-laki. "Ayah saya sempat nangis. Soalnya, sejak kecil saya adalah seorang wanita dengan nama Karnah," tandasnya. Sejak saat itulah Sukarnah berubah nama menjadi Iwan Setiawan. Nama itu dia ambil dari salah satu guru favoritnya di SGPD.

Pada 1980, Iwan bertemu dengan Tuti Pudji Astuti, wanita yang ditemuinya saat bermimpi di makam Bung Karno. Wanita itu meminta izin bermalam di rumah Iwan. Setelah beberapa hari menginap, Tuti memberikan secarik kertas kepada Iwan yang berisi penyataan cintanya.

Menurut Tuti, dirinya bermimpi yang sama dengan Iwan. Ia bertemu Soekarno. "Bahkan, kakak saya juga bermimpi kalau saya akan menikah dengan bekas wanita," tukas Tuti yang berusia sepuluh tahun lebih muda.

Setahun setelah pertemuan, Iwan dan Tuti menikah. Pasangan itu dikarunai seorang anak bernama Ebiet Hilman setelah enam tahun menikah. Setahun lalu, Ebiet Hilman menikah dengan Sri Esti.

Perjalanan Iwan memang sulit diterima logika. Namun, apa pun dia adalah salah satu atlet nasional yang terlupakan. Sudah sepantasnya dia mendapat penghormatan seperti rekan-rekannya yang sebagian besar kini mantap sebagai pejabat organisasi olahraga maupun pemerintahan.

"Beliau (Iwan, Red) adalah korban politik. Kita tetap harus menghormatinya sebagai salah satu peletak dasar olahraga tanah air," kata Adhyaksa Dault ketika memberikan rumah pada Iwan dalam bentuk uang tunai. (*)
sumber


 <<= Novel " Hilangnya Cinta Sejati " Oleh Danial Bab I

Novel "Hilangnya Cinta Sejati" Oleh Danial Bab II



 Ini adalah kisah nyata pengalaman dari saya sang penulis dan pengelola blog ini, Novel ini saya tulis dan dicetak untuk keperluan sebagai hadiah ulang tahun Adel (Nama samaran) yang ke 27. Ia itu adalah mantan kekasihku yang sangat aku sayang yang telah menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih dengan penulis selama tujuh tahun, namun berakhir perpisahan. Perpisahan kami disebabkan oleh...untuk lebih jelasnya simak isi novel "Hilangnya Cinta Sejati" Oleh Danial berikut :

Untuk memudahkan anda membaca keseluruhan Isi dari Novel "Hilangnya Cinta Sejati" Oleh Danial, silahkan masuk ke tag Galeri di blog http://berbagirasasejutailmu.blogspot.com ini, dan cari judul pada sub judul Novel "Hilangnya Cinta Sejati" Oleh Danial Bab I dan selanjutnya.


Cinta Yang Pernah Hilang
Pagi itu seperti biasa ku sudah bangun, setelah membereskan kamar tidur dan membersihkan halaman rumah, aku langsung memberi makan hewan-hewan peliharaanku. Lima ekor ayam potong yang sudah sangat tua karena sayang untuk disembelih,  beberapa ekor ikan lele di kolam ukuran 3m x 3m,  dan tentu saja burung - burung dara kesayanganku. Semua itu sengaja aku pelihara hanya untuk mengisi waktu luangku disaat aku jadi pengangguran beberapa bulan setelah lulus SMA.

Lang…Galang…terdengar suara Tante Juju memanggil namaku, aku langsung berlari mendekati nya. Ada apa tante, tante manggil saya? Iya, tuh ada telfon dari Nenek  di Grogol, tidak menunggu lama aku bergegas menuju meja telfon yang terletak di pojok ruang tengah. Halo Assalamu Alaikum Nek, Bagaimana kabar nya nenek sekeluarga ? tumben nenek telfon saya? Kalo boleh tahu ada apa ya nek, tanyaku. Iya nenek sengaja telfon kamu, karena nenek dengar kamu sudah lama nganggur, kebetulan disini ada bengkel lumayan besar sedang membutuhkan karyawan, barangkali kamu berminat, nenek Min menjelaskan. Ya saya pasti mau lah nek, sudah tidak betah nganggur sudah pengen punya penghasilan sendiri, kalau begitu besok  kamu datang ke rumah nenek nanti kita bicara, Ya sudah begitus aja ya, lanjut nenek Min seraya menutup telfon.
Keesokan harinya aku langsung berangkat menuju rumah Nenek Min dengan menumpang bus patas AC trayek Depok - Grogol, perjalanan dari terminal Depok satu ke Grogol kurang lebih 2 jam. Sesampainya di rumah nenek aku langsung disambut hangat seluruh keluarganya, maklum sudah lama sekali aku tidak pernah main kesana. DUlu aku sempat tinggal dan bersekolah disini, tepatnya waktu aku duduk di kelas satu SMP. Setelah bercerita panjang lebar lalu nenek Min mulai berbicara tentang pekerjaan yang kemarin di bahas di telfon, yang intinya aku bisa bekerja mulai kapanpun di bengkel tersebut karena pemilik bengkel cukup kenal dekat dengan nenekku.

Akan tetapi sebelum aku bekerja di bengkel tersebut Nenek ingin aku membantu untuk merenovasi rumahnya. Bukan sebagai tukang bangunan, melainkan sebagai pembantu tukang, ya hitung-hitung mengurangi  beban pekerjaan. Namun tetap saja aku di beri upah layaknya seorang buruh bangunan, padahal aku sudah meminta kepadanya untuk tidak dibayar. Tetapi nenekku mempunyai alas an yang lebih logis mengapa ia tetap memberi aku bayaran, alasannya untuk jajan dan membeli pakaian.
Baru seminggu aku tinggal di sana aku sudah mempunyai banyak teman, laki-laki maupun perempuan. Ya itu semua adalah kawan lama aku yang sudah 6 tahun tidak bertemu. Sore Menjelang malam kira-kira jam 18.30 rencananya aku mau nongkrong berumpul bersama teman-teman, ketika itu aku melewati gang yang lumayan sempit, dan tiba-tiba ada suara seorang gadis memanggil aku.

Galang, sombong banget ya kamu sekarang? Sempat aku celingukan mencari dari mana arahnya sumber suara tersebut. Tidak begitu lama perempuan tersebut berbicara kembali setengah berteriak, Aku diatas Lang… kutolehkan kepalaku, ku arahkan pandangan ke sebuah balkon yang persis berada di atas tempat aku berdiri saat itu, Eh kamu Nung? Maaf aku tidak lihat kalau ada kamu di atas situ. Dia segera menuruni tangga kayu yang  yang tidak jauh dari tempatku berdiri, sambil mengulurkan tangan dia menanyakan kabarku, aku menjawab apa adanya saat itu. Oya ayo masuk, aku buatkan minum ya, sambil mengajak aku naik ke tangga tempat dimana dia turun tadi. Ya memang di daerah sana banyak ditemukan rumah yang mempunyai  anak tangga yang langsung dari luar rumah, tujuannya adalah untuk mmudahkan saat kita keluar atau masuk ke ruangan atas di saat malam hari dimana pintu utama bawah sudah terkunci.
Tunggu sebentar ya, aku ambilkan dulu minum. Silahkan duduk dulu, Nung ( Panggilan akrab Nuri) menunjuk ke kursi yang tepat berada di teras di depan kamarnya. Iya terima kasih jawabku, tapi aku lebih tertarik untuk melihat pemandangan dengan berdiri di teras balkon tersebut.

Tidak begitu lama Nung sudah datang dengan membawa dua gelas sirup dan sedikit makanan ringan. Ayo duduk dia berkata, tapi aku tidak mengindahkan dia….Wah enak ya Nung udaranya disini banyak angin jadi sejuk, pemandangannya juga cukup bagus bisa lihat gedung gedung di kejauhan sana, aku bilang. Nung tersenyum sambil berkata ya beginilah, kamu boleh ko sering-sering kesini. ah kamu bisa aja, kataku.
Kami pun larut dalam obrolan membahas masa lalu, ketika aku tinggal di daerah yang sama, masa kecil kami yang masih culun sampai bererita tentang kehidupan kita selama ini. Saat itu suasana obrolan sangat hangat seolah-olah kita sudah sering bersama, diantara kita tidak ada rasa canggung sama sekali. Tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul 21.15, dan karena rencananya aku akan pergi untuk berumpul bersama teman-temanku maka akupun berpamitan. Terlihat wajah sedikit murung, dengan berat dia berkata ya sudah, kapan-kapan mampir lagi ya.

Malam berikutnya seperti biasa jam 18.30 aku akan keluar rumah untuk ngumpul-ngumpul di rumah salah seorang teman dan karena jalan terdekat untuk menuju kesana  harus melewati rumah Nung , ternyata saat melewati rumahnya rupanya dia sengaja sudah menunggu aku. Akhirnya mau tidak mau aku mampir untuk ngobrol dengannya, ada perasaan tidak enak sebetulnya di malam kedua kita ngobrol itu, dalam hatiku ada beberapa pertanyaan yang mengganjal, mengapa dia begitu seperti menantikan aku untuk ngobrol lagi. Tapi itu hanya kusimpan di benakku.

Seperti hari kemarin dia berceloteh sambil sesekali mengumbar senyum manja nya. Tidak aku sangka sebelumnya dia menanyakan tentang hubungan ku dengan Solihat, anak tetangga dulu yang tinggal tidak jauh dari rumah Nung. Sebetulnya Solihat adalah anak Bapak Zakaria, tetangga kami ketika itu, akan tetapi dia tinggal di Bogor bersama Neneknya. Dan pada waktu itu bertepatan dengan libur kenaikan kelas yang lamanya satu bulan jadi dia mengisi liburan di rumah orang tuanya di Jakarta. Ketika itu memang kami sering main bersama  oleh karena itu orang-orang menyangka kami  mempunyai hubungan khusus. Bayangkan anak umur 13 tahun  berpacaran. Benar yang dikatakano rang Jawa “tresno teko soko kulino” lama kelamaan ada perasaan lain di hatiku, senang apabila bertemu, rasa rindu selalu mengikuti apabila jauh darinya. Ya perasaan itu aku rasakan juga akhirnya.

Itu masa lalu yang sudah terlewat selama enam tahun. Dan..ya begitulah aku jelaskan semua tentang aku bersama Solihat kepada Nung, Suasana pun mulai sedikit serius. Fikiranku pun sempat berhenti seakan ingin mengulangi masa itu, rasa rindu kepada Solihat mendadak muncul. Belum sempat aku Tanya kabar dan keberadaan Solihat kepada Nung , Nung mendahului ku dengan pertanyaan yang sulit aku jawab ketika itu, Dia memberi tahu tentang perasaan nya kepadaku saat itu…Lang, sebetulnya dulu aku ngerasa iri kepada kalian, aku merasa cemburu kepada Solihat karena dia bisa lebih dekat denganmu kamu, Padahal saat itu aku ingin sekali sering bersama kamu, dia berhenti bicara sejenak sambil menghela nafas panjang..hehhh sebetulnya dahulu aku juga mencintaimu Lang.

Aku tertawa untuk memecah suasana yang saat itu mulai melankolis…aku berusaha tetap tenang walau jantung mulai berdebar kencang. Itu masa lalu Nung, sekarang kita sudah jauh berbeda mungkin rasa itu sudah mati setelah sekian lama berpisah,  mungkin kamu sudah menjadi milik orang lain, dan apabila benar, rasa itu menjadi tidak baik kalau kamu tetap pelihara, kataku. Namun hatiku bertambah gugup mendengar jawaban dari Nung. Kamu salah Lang, selama ini aku selalu menantikan kedatanganmu untuk berkunjung ke rumah Nenekmu, Seandainya kamu datang aku akan mengungkapkan rasa ini yang telah lama aku simpan dalam hati, namun apa yang terjadi. Selama enam tahun kamu tidak ada kabar, jangankan datang kesini. Aku selalu menanyakan keberadaanmu di sana Kepada tante kamu Tante Novi, namun aku tidak pernah mendapatkan jawaban yang cukup mengobati rinduku. Sekarang kamu sudah ada di depanku Lang, aku tidak ingin menyia-nyiakan saat seperti ini dan sekarang aku ungkapkan semua perasaan yang ada di dalam hatiku Lang. Berhenti bicara sebentar, dengan nada pelan penuh cemas dia menanyakan kepadaku, Galang,  apakah kamu masih mencintai Solihat, ataukah sekarang kamu sudah manjadi milik orang lain?

Aku menghela nafas panjang, tak habis fikir dan rasa heranku semakin bertambah besar. Apakah maksud semua ini Nung? Terus terang aku dahulu memang suka kepada Solihat, tapi itu cinta monyet, lain halnya kalau sekarang aku bertemu dengannya aku tidak tahu akan berubah seperti apa perasaanku. Terus terang selama di Depok aku sangat rindu kepada kalian semua, specialy kepada Solihat namun aku tidak berdaya, aku tidak bisa berkunjung ke sini, dan akhirnya rasa itu pudar dengan sendirinya.

Disana aku sempat  mempunyai kekasih. Namun selalu terpisah karena jarak, putus komunikasi sampai berpisah karena beda kelas atau beda sekolah. Jadi sekarang kamu masih sendiri? Nung menyelidik…Ya kurang lebih begitulah Nung. Jadi apa tanggapanmu tentang perasaan ini Lang? Nung kembali mengungkapkan isi hatinya…Aku semakin terdiam, terus terang saat itu aku bingung harus menjawab apa lagipula aku adalah tipe orang yang tidak mudah jatuh cinta jadi aku benar benar tidak bisa menyatakan perasaanku yang sebetulnya biasa saja kepada Nung. Loh kok malah diam sich, Nung menoba mencairkan suasana yang mulai membeku. Aku beranjak dari tempat duduk dan berjalan menuju pagar teras balkon, kulayangkan pandangan kosong jauh ke sana. Sebenarnya aku senang dengan Nung, suka dengan sifat humoris dia, suka dengan sifat nya yang easy going, sufel…Namun untuk mencintainya? Entahlah mungkin aku butuh beberapa hari untuk memikirkannya lagi pula aku belum mengetahui pertemanan dia dengan lelaki lain.

Sedikit kaget waktu dia memeluku dari belakang dan kembali berkata, Galang akankah rasa ini kembali terkubur karena kamu tidak menginginkan cintaku? Aku hanya terdiam, dan tidak bereaksi apa-apa walaupun tangannya melingkar di pinggangku…Perlahan disandarkan nya kepalanya di punggungku. Lang mungkin kamu ingin mengatakan sesuatu? Kamu ingin menanyakan apakah aku sudah mempunyai kekasih kan? Seolah tersentak akupun membalikkan badan pelan-pelan namun Nung tetap tidak melepaskan pelukannya dari pinggangku sehingga kami berhadap-hadapan.

Pandai merayu rupanaya perempuan ini. Dia berkata Lang, aku sungguh berharap kamu selalu ada untukku, kamu selalu di sampingku….Aku mencintaimu Galang. Untung saat itu cahaya di balkon cukup redup jadi perubahan air mukaku yang mulai memerah tidak terlihat jelas, namun tetap saja ketegangan hatiku tidak bisa disembunyikan, baru pertama ada perempuan yang berani mengunggkapkan perasaannya kepada laki-laki. Baru saja bibirku terbuka,  maksudku ingin mengatakan sesuatu, namun Nung lebih cepat mendaratkan kecupannya di bibirku…saat itu kakiku terasa seperti tidak mempunyai kekuatan untuk berdiri dan aku hanya terdiam menikmati ciuman Nung. Sebelumnya aku pernah beberapa kali berciuman dengan pacarku, Tapi yang ini sungguh aku rasa lain. Bukan karena kenikmatannya, akan tetapi memang suasana saat itu benar-benar bingung, fikiran seakan berfikir negative tentang Nung, Namun suasana, cahaya dan keheningan saat itu benar-benar sangat romantis. Itulah yang membuatku tidak berdaya.

Lama-lama rasa nervous ku mulai sirna, aku tarik badanku ke belakang mencoba menyudahi ciumannya. Tapi tidak bermaksud melepaskan pelukannya. Tangan aku mulai membelai punggung Nung dengan lembut. Nung, aku dapat merasakan rasa cintamu kepadaku begitu besarnya mungkin karena telah lama tersimpan, Dia tersipu. Tapi aku tidak bisa begitu saja mengatakan Aku juga Cinta Padamu, karena aku butuh proses untuk dapat menerima ini. Aku ingin tahu apakah benar kamu masih sendiri?  Dengan sedikit kecewa dia menjawab. Lang percayalah kepadaku, selama ini aku hanya menunggu kamu…Ah kamu tuh perempuan ko pandai merayu sanggahku. Nung mungkin kita harus lebih sering bersama dahulu untuk merasakan apakah kita cocok atau tidak, karena aku takut aku menyakiti rasa cinta kamu ke aku. Ya sudah mulai sekarang aku akan sering main ke rumah kamu, mungkin sesekali akan ngajak kamu untuk makan malam atau nonton. Terlihat mata Nung berbinar-binar bahagia. Namun kembali cemberut setelah aku berkata, tapi bukan berarti kita langsung pacaran ya…?? Tidak tega juga melihat wajah Nung cemberut aku pun memegang kedua pipinya sambil berkata, tapi aku akan mencoba untuk bisa mencintaimu dan mencoba akan selalu ada untukmu..i swear. Dia kembali tersenyum dan aku beri dia kecupan hangat di kening. Ya sudah  Nung, kasihan teman-temanku menunggu aku di sana, aku harus menemui mereka…ya sudah hati hati ya Lang, jawabnya.

Setelah Kejadian malam itu, hubunganku dengan Nung semakin dekat. Hari-hari kita diisi dengan bunga-bunga kasmaran yang begitu indah. Akhirnya kita resmi berpacaran. Perhatian dan sayang yang aku dapatkan darinya sungguh membuat aku lebih berarti, tidak ada perselisihan di antara kita padahal saat itu aku tidak memilih untuk berteman dengan laki laki saja. Pertemanan ku dengan perempuan pun berjalan seperti biasa namun tidak ada yng aku buat spasial, ya mungkin karena aku sangat menjunjung tinggi kesetiaan dan tidak ingin menyakiti perasaan orang lain, terlebih dia adalah pacarku sendiri. 

BACA JUGA: