Novel "Hilangnya Cinta Sejati" Oleh Danial Bab III



Masa –Masa dalam Keputus Asaan
Beberapa bulan aku mersa menikmati kehidupanku, kurasa lengkap kebahagiaan saat itu. Tidak banyak yang tahu kalau aku sedang menjalin hubungan asmara dengan Nung ( Nuri ku sayang) , terlebih teman-temanku yang perempuan. Saat itu aku sering curhat untuk menceritakan semuanya hanya kepada tante Novi, ya karena dia cukup dekat denganku dan mungkin karena usia yang hanya terpaut lebih tua tiga tahun dengan usiaku.

Pada suatu hari Leli teman dekat Nung, meminta aku untuk mengantar dia pergi ke sebuah mini market namun tanpa sepengetahuan Nung. Jarak mini market tersebut sebetulnya tidak jauh dari tempat kami tinggal namun cukup jauh apabila berjalan kaki. Tetapi anehnya Leli  ingin kita berjalan kaki saja, akupun menuruti kemauannya hitung-hitung refreshing melihat keadaan sekitar komplek.

Diperjalanan tak kusangka Leli menanyakan soal hubungan ku dengan Nung, Karena kami cukup akrab akhirnya aku ceritakan semuanya, Namun sebelumnya aku bertanya ke Leli, kenapa memang, ada apa tiba-tiba kamu menanyakan soal itu? Aku hanya ingin tahu saja karena kalian tidak pernah memberitakan nya apalagi merayakannya dengan mentraktir teman-teman, dia berkata sambil bercanda. Aku mulai bercerita tentang hubunganku dengan Nung, Tanpa menyangkal atau menyela, Leli hanya mendengarkan cerita aku sambil sesekali menganggukan kepala tanda dia memahami sesuatu yang aku terangkan . tidak terasa kami sudah sampai ke mini market yang dituju. Kami sibuk memilih barang yang akan dibeli, setelah semua lengkap kamipun  pergi ke cashier untuk melakukan pembayaran. Saat membayar barang yang kami beli, Leli menambahkan dua buah coklat ukuran sedang , sama ini ya mba? Dia memberi tahu kepada petugas cashier. Satu buah coklat tersebut diberikan kepada ku. Nih Lang  untuk kamu satu buah.

Setelah semua selesai kami pun beranjak pulang. Teruskan dong Lang ceritanya Leli meminta kepadaku. Ya sudah Cuma seperti itu cerita kita, jawabku pendek. Jadi sampai sekarang kalian masih jalan? Ya iya lah kita sih ga ambil pusing apa yang sedang kita jalani, toh kita masih muda, kita enjoy aja, kata aku. Tap Lang… sambung Leli seakan ragu-ragu untuk meneruskan pembicaraannya. Tapi apa? kamu iri sama kita? Ihhh siapa juga kali yang  iri, aku sih enjoy dengan kesendirianku toh masih banyak teman yang mau perduli dan sayang sama aku, jadi I am single and I am happy celotehnya. Bukan itu maksudku Galang, Apa kamu tidak pernah menanyakan kepada Nung tentang kisah dia yang sebenarnya? Tentang apa, aku bertanya. Tentang kekasihnya?

  Aku sempat kaget mendengar apa kata Leli, memang selama ini Nung punya kekasih?  Iya Lang, sudah ukup lama mereka berpacaran, kurang lebih dua tahun lah. Tapi kenapa aku tidak pernah bertemu dengan kekasihnya, padahal sesering itu aku apel ke rumahnya dan sering pula kita hang out bareng. Yang benar saja kamu Leli, jangan mengarang cerita kata ku dengan perasaan berdebar-debar. Iya bener Lang, Nung sudah punya kekasih, bahkan mereka satu kantor, pulang kerja pun mereka selalu bareng. Pernahkah kamu main kerumah Nung di hari minggu siang? Tanya nya. Pernah sekali sebab aku kan masih sibuk dengan renovasi rumah Nenek ku itu.. Ya pantas saja Lang, karena kekasih Nung itu selalu main kerumahnya di hari Minggu dan tidak pernah malam hari disebabkan rumahnya yang cukup jauh.

Perasaanku seakan tersambar petir waktu mendengar semua penjelasan Leli . Tapi aku tidak bisa begitu saja mempercayai ucapannya, namun aku berjanji kepadanya apabila aku bisa membuktikan Nung sudah mempunyai kekasih, aku akan mengakhiri hubungan ku dengan nya. Hari demi hari masih seperti biasa aku masih memberikan perhatian kepada nung tapi disamping itu aku selalu menyelidiki tentang kekasihnya. Maksudku apabila memang Nung sudah mempunyai kekasih dan hubungan mereka baik-baik saja maka aku harus merelakan untuk melepaskan dia. Mustahil aku tanyakan secara terus terang kepadanya, karena dia selalu berkata hal yang sama yaitu dia tidak mempunyai pacar.

Suatu saat di hari minggu aku menyuruh Yadi, teman dekatku untuk mampir ke rumah Nung dengan alasan hanya mampir saja. Ternyata benar dirumah Nung ada seorang laki-laki yang sedang asik ngobrol dengan Nung. Dari situ aku mulai mempercayai keterangan Leli tempo hari. Aku pun Suruh Yadi untuk nongkrong di pinggir jalan dimana tempat nung selalu turun dari bis. Apakah dia selalu bareng dengan laki-laki yang sama dengan yang selalu main ke rumah Nung di Hari Minggu? Dan ternyata benar Selama tiga hari berturut-turut nung selalu pulang bersama laki-laki tersebut, walaupun laki-laki itu tidak ikut turun dari bis.

Belakangan aku tahu laki-laki itu bernama Mul. Karena aku kira sudah cukup bukti maka malam itu aku berniat main ke rumah Nung dan akan aku tanyakan sekali lagi perihal laki-laki yang tidak lain adalah Mul. Sesampainya di rumah Nung, aku tidak menunjukkan muka mencurigakan, seperti biasa aku sapa dia penuh kehangatan. Dia seperti biasa langsung membuatkan aku minum. Saat itu perasaanku sungguh berkecamuk, marah bercampur rasa sayangku kepadanya yang sudah terlanjur mendekam di dalam hati selama beberapa bulan terakhir

Tidak lama Nung datang dengan membawa dua  buah gelas yang masing masing berisi teh hangat dan kopi hitam. Sambil tersenyum dia mempersilahkan aku untuk minum. Makasih sayang ucapku hambar karena perasaan kecewa mulai mengusai hatiku. Loh kok bilang sayangnya seperti tidak ikhlas sih? Nung bertanya..Tidak banyak cerita akupun langsung mencicipi kopi yang ia buat. Memang dari  awal sampai saat itu kalau aku main ke rumah nya, dia selalu membuatkan aku minum, aku kagum sama dia perhatian dan cintanya terhadapku aku rasakan sangat besar seakan hanya tercurah kepadaku saja, maka dari itu aku tidak pernah berfikir kalau dia sebetulnya sudah punya kekasih, sungguh naïf.

Setelah meminum sedikit kopi panas, aku mulai berbicara dengan sedikit menyelidik dan tutur bahasa yang halus namun serius akupun bertanya. Sayang, seandainya aku jatuh hati dengan wanita lain dan wanita tersebut menerima cinta ku, bagaimana perasaan kamu sebagai pacarku? Nung merasa kaget dengan pertanyaan ku itu, entah dia sudah bisa membaca arah pertanyaanku ataukah dia tidak pernah memikirkan hal itu, dia pun berkata, namun bukan jawaban yang aku dapatkan melainkan pertanyaan balik. Memangnya kamu sedang dekat sama gadis lain sayang? Dengan nada pelan dan seperti mau meneteskan air mata. Akupun tetap bertanya kepadanya dengan pertanyaan yang sama. Dan dia hanya menjawab aku pasti sedih..terlihat air mata menetes di pipinya…

Ohh Tuhan ini sungguh pilihan yang berat bagiku, disamping aku tidak ingin kehilangan dia namun aku harus konsekwen jangan pernah merebut kekasih orang lain. Hal seperti ini belum pernah aku alami sebelumnya. Aku memang bukan laki-laki yang tega saat melihat wanita menangis di hadapanku, andaikan aku tidak bisa memberi perlindungan atau ketenangan kepadanya, aku bisa ikut menangis. Memang orang yang saat itu menangis di hadapanku adalah orang yang sudah menyakiti hati dan perasaanku, namun orang itu pula lah yang selama ini menjadi motivasi bagiku.

Akhirnya dengan berat kupeluk dia, sambil berkata Nung kamu tahu perasaanku saat ini? Aku sungguh kecewa sama orang yang paling aku sayang, karena ternyata kasih sayang orang tersebut bukan hanya untukku… Nung berusaha melepaskan pelukanku dan sedikit marah dengan tangisan yang mulai mengeluarkan suara terisak. Aku coba menenangkan dia sambil tetap mendekap mesra tubuhnya, dia tetap membenamkan wajahnya yg basah oleh air mata di dadaku..Nung, kamu berhasil membuat aku jatuh hati kepadamu, kamu berhasil mencuri seluruh perhatianku, namun kamu juga telah berhasil merobek hatiku sayang. Mulai saat ini mungkin aku tidak akan pernah menginjakkan kaki di tempat yang aku sukai ini, bukan karena aku sudah tidak mencintai orang yang punya tempat ini, bukan karena aku sudah tidak menyayangi orang tersebut..tapi karena aku ingin menjaga perasaan orang lain. Aku tidak akan meminta kamu untuk memilih aku atau dia, Karena andaipun kamu memilih aku, aku tidak akan sampai tega menyakiti dia..Kalau tidak salah namanya Mul kan? Mulyanto? Tanyaku

Nung mulai memberotak sekuat tenaga ingin melepaskan pelukanku, namun untuk kesekian kali nya aku bisa menenangkan hatinya..sayang mungkin ini adalah pelukan sayangku yang terakhir aku harap jangan kamu membenci aku karena aku mundur dari jalan ini, dan asal kamu tahu akupun tidak akan pernah membenci kamu, meskipun kamu telah menyakiti perasaanku. Tanpa bicara sepatah katapun Nung tetap bersandar di dadaku dengan menutupi wajahnya dan sambil terisak. Sayang aku aharap kamu kembali kepadanya, tolong berikan kembali semua cinta dan sayang kamu kepadanya yang selama ini sudah kau berikan kepadaku..dia hanya terdiam. Sayang untuk yang terakhir kalinya menutup kisah kita izinkan aku kecup keningmu. Dia pun menengadah dan sudah bisa bersikap tenang. Terlihat matanya yang sembab basah oleh air mata yang masih mengalir. Lalu aku kecup keningnya sambil memejamkan mata membayangkan manisnya kasih sayang dia selama ini aku berkata..selamat tinggal sayangku kembalilah kepadanya..lupakan semua tentang kita namun jangan kau benci aku, maafkan semua kesalahanku saat aku masih disisimu.

Dengan perasaan remuk aku meninggalkan tempat terindahku saat itu dan tidak lupa untuk menghabiskan sisa kopi untuk menenangkan fikiran. Aku berusaha untuk tidak menoleh ke belakang, karena aku tahu dia pasti melepasku dengan pandangan sedih.
   

    Kau dihatiku, Slalu menjadi pujaanku
    Kau di jiwaku, Mengalir di dalam darahku
    Yang terdalam, Yang  pernah kurasakan
    Yang indah, Yang takkan kulupakan
   
    Tapi takkan kumiliki, Semua cinta didirimu
    Karna kau telah memilih satu cinta
   
    Ku tak ingin, Hancurkan rasa di hatimu
    Ku tak ingin, Hancurkan persahabatanku
    Kau memulai, Dua cinta yang kau jalani
    Dan tak akan lagi Ku harapkan cintamu
   
    Aku takkan memiliki, Semua cinta didirimu
    Karna kau tlah memilih, Satu cinta
    Semua kan jadi kenangan, Yang tersimpan dalam hidupku
    Yang tak pernah terjadi, Saat cinta seperti dulu



No comments:

Post a Comment