Siapakah Semar ?

Sang Hyang Ismaya.. Eyang Ismaya.. tokoh panutan.. pembimbing spiritual yang tidak pernah memaksakan kehendaknya bahkan kepada cucu yang di temaninya.. sungguh dahsyat.. memang Filosofi Semar..

Dikalangan spiritual Jawa, Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual.

Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya

* Bebadra = Membangun sarana dari dasar

* Naya = Nayaka = Utusan mangrasul

Artinya : Mengemban sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia

Javanologi : Semar = Haseming samar-samar

Harafiah : Sang Penuntun Makna Kehidupan

Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : “Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tunggal”. Sedang tangan kirinya bermakna “berserah total dan mutlak serta sekaligus simbol keilmuan yang netral namun simpatik”.

Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel (karang = gersang) dempel = keteguhan jiwa.

Rambut semar “kuncung” (jarwadasa/pribahasa jawa kuno) maknanya hendak
mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan. Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi.

Semar itu lambang gelap gulita, lambang misteri, ketidaktahuan mutlak, yang dalam beberapa ajaran mistik sering disebut-sebut sebagai ketidaktahuan kita mengenai Tuhan.

Semar berjalan menghadap keatas maknanya : “dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq ), yang Maha Pengasih serta Penyayang umat”.

Kain semar Parangkusumorojo : perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia), agar Memayu Hayuning Bawono : menegakan keadilan dan kebenaran di bumi

Ciri sosok semar adalah :

  • Semar berkuncung seperti kanak kanak, namun berwajah sangat tua
  • Semar tertawanya selalu diakhiri nada tangisan
  • Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa
  • Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok
  • Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya.. sebab dan akibatnya..
  • Semar sebagai seorang punakawan dalam menasehati cucunya khas punakawan lucu dan cerewetnya minta ampun.. sampai hal hal terkecil diungkapkan.. hehehe..

Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Islam di tanah Jawa. Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas, dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa . Semar (pralambang ngelmu gaib) – kasampurnaning pati.

Gambar kaligrafi jawa tersebut bermakna :

Bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan Mardika artinya “merdekanya jiwa dan sukma”, maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian, agar dalam menuju kematian sempurna tak ternodai oleh dosa. Manusia jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa (ora kebanda ing kadonyan, ora samar marang bisane sirna durka murkamu) artinya : “dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup”

Dikalangan spiritual Jawa ,Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual . Pengertian ini tidak lain hanyalah sebagai suatu bukti yang sangat kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah bangsa yang Religius dan ber KeTuhan-an yang Maha Esa.

Konon Kaki Semar adalah Kakek moyang yang pertama dan digambarkan sebagai perwujudan dari orang Jawa yg pertama. Karena mendapat “tugas khusus” dari Gusti Kang Murbeng Dumadi (Tuhan YME), maka Kaki Semar memiliki kemungkinan untuk terus hadir dgn keberadaan pada setiap saat, kepada siapa saja dan kapan saja menurut apa yg dikehendaki.

Semar menganjurkan Manusia memohon dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Esa dengan ”Eling lan Percoyo, Sumarah lan seumeleh lan mituhu” kepada Tuhan Yang Maha Esa.

  • Sumarah : Berserah, Pasrah, Percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan sumarah , manusia di harapkan percaya dan yakin akan kasih sayang dan kekuasaan Gusti Kang Murbeng Dumadi, Bahwa DIA lah yang mengatur dan akan membrrikan kebaikan dalam kehidupan kita. Keyakinan bahwa apabila kita menghadapai gelombang kehidupan maka Allah akan memberikan jalan keluar yang terbaik bagi kita. bah gelombang kehidupan adalah ujian untuk sebuah perjalanan spiritualitas
  • Sumeleh : artinya Patuh dan Bersandar kepada Allah Yang Maha Esa . Manusia sebagai hamba hanya lah berusaha dan keberhasilannya tergantung Kuasa Tuhan yang maha Esa, maka dengan sumeleh ini manusia di harapkan tak mudah putus asa dan teguh dalam usahanya . Bekerja tanpa memikirkan hasilnya.. semua kembali kepadaNYA..
  • Mituhu : artinya patuh taat dan disiplin. patuh dan mentaati setiap laranganNYA dan disiplin dalam mengaji DIRI dan mengaji RASA..

Satu ciri Khas Tokoh Punakawan.. yang sampai saat ini tidak akan lenyap.. punakawan yang selalu lucu dan nyeleneh.. Dan petuah Beliau.. Semar.. Kaki Semar.. Sang Hyang Ismaya.. Eyang Ismaya yang paling sering di ungkapkan kepada cucunya para pejalan spiritual yang ditemaninya adalah OJO DUMEH.. OJO GUMUNAN.. ELING LAN WASPADA.. Bekti Marang GUSTI ALLAH.. GUSTI KANG MURBENG MURDADI.. Ojo Dumeh, Ojo Gumunan, Eling lan Waspodo merupakan satu kesatuan yang dipahami secara utuh, sehingga manusia di harapkan menjadi Pasrah dan Yakin Kepada Kekuasaan Tuhan serta menjadi bijaksana, sederhana dan hati hati. Manusia menjadi “Bisa Merasa.” Bukan ”Merasa Bisa.”


referensi : kangboed.wordpress.com


Artikel Lainnya :

<<- Ayam Cemani Diternak di Temanggung

Macam-Macam Jenis Ikan Cupang ->>


1 comment: