Kisah Galunggung Meletus 5 April 1982




Rekaman Sebuah Peristiwa


BILA bertemu dengan tanggal 5 April, H.Eddy Padmadisastra selalu merenung dan menerawang jauh ke masa silam tepatnya 5 April 1982 lalu, dimana ia menjadi koresponden “Sinar Harapan” yang bertugas di Tasikmalaya. Karena pada Senin dinihari 5 April 1982 itu, Gunung Galunggung yang berada di sebelah barat Tasikmalaya atau sebelah selatan Jawa Barat, tanpa diduga meletus dengan dahsyatnya. Peristiwa meletusnya Gunung Galunggung tersebut yang tiap hari diekspose Eddy Padmadisastra itu

merupakan Rekaman Peristiwa bersejarah yang kemudian dibukukan oleh Sinar Harapan.

Senin, 5 April 1982.


Penduduk di Kabupaten Tasikmalaya terutama yang berada di kawasan kaki Gunung Galunggung, awalnya tidak merasa curiga dan bahkan menduga, akan terjadi malapetaka yang maha dahsyat. Karena gunung tersebut tidak menimbulkan gejala apa-apa. Kecuali itu, beberapa waktu sebelumnya, penduduk yang mendiami di desa-desa di lereng gunung memang mencium bau ‘gas’ belerang yang cukup menusuk hidung.


Pada Minggu malam sekitar pukul 23.00 WIB, beberapa penduduk yang belum terlelap tidur,merasa ada getaran gempa. Jadi, mereka mengira ada gempa bumi saja. Namun pada Senin dini hari sekitar 02.00WIB, Gunung Galunggung memuntahkan lava, abu dan kerikil yang disertai dentuman yang keras, kemudian disusul dengan asap tebal hitam mengepul dan membubung tinggi ke angkasa.

Tak pelak lagi, penduduk yang berada di lereng gunung segera bangun dan seketika panik. Bahkan mereka berusaha menyelamatkan diri ke tempat yang dinilai aman; mereka mengungsi.

Puluhan ribu penduduk desa di wilayah Kec.Cisayong, Kec.Indihiang dan Leuwisari di lereng bagian timur, segera berduyung-duyung mengungsi ke Kota Tasikmalaya. Peristiwa meletusnya Gunung Galunggung pada dini hari Senin 5 April 1982 itu dilaporkan oleh koresponden “Sinar Harapan” Eddy Padma.

Selain desa-desa di lereng gunung, juga mengungsi penduduk Desa Sinagar, Desa Sukaratu, Desa Rancapaku, Desa Linggajati, Desa Sukamahi, Desa Sukagalih dan desa lain yang kejatuhan abu maupun kerikil.Sepanjang hari Senin, arus pengungsi terus bertambah dengan penuh kepanikan.


Bupati Tasikmalaya H.Hoedly Bambang Aruman, Komandan Resimen 062 serta para pejabat Pemda Tasikmalaya segera tenggelam dalam kesibukan. Para pengungsi ditempatkan di Gedung Olahraga Sukapura, sementara kantor-kantor, bangunan Sekolah Dasar serta tempat-tempat umum dibuka untuk untuk menampung para pengungsi dengan keluarganya berikut barang-barang yang masih bisa diselamatkan. Pada hari Senin itu pula, Bupati Tasikmalaya serta Danrem melakukan peninjauan, dan peristiwa meletusnya Gunung Galunggung dilaporkan kepada Gubernur Jawa Barat H.Aang Kunaefi.


Dan di antara ribuan pengungsi, tampak pula HR Wasita Kusumah mantan Gubernur NTB yang tinggal di Desa Sukagalih, tak jauh dari lereng Gunung Galunggung. Ia dijumpai koresponden “Sinar Harapan” tengah membantu para pengungsi yang ditampung di beberapa tempat di Kota Tasikmalaya.

Senin itu, gunung masih menyemburkan api dan abu yang terbawa angina ke arah barat, hingga ke kota Singaparna, Kabupaten Garut dan Bandung gelap gulita diselimuti abu tebal. Koresponden “Sinar Harapan” melaporkan seakan-akan malam, juga Tasikmalaya dan garut. Bahkan, jarak pandang di jalan-jalan raya Garut dan tasikmalaya, dilaporkan kurang dari 20 meter.


Laporan koresponden “Sinar Harapan” di Garut menyebutkan, sejak pagi hari Senin itu, abu terus turun hingga keadaan menjadi gelap gulita. Akibatnya, sekolah-sekolah tutup, dan murid-muridnya diliburkan. Demikian pula toko dan kantor-kantor tidak menunjukkan aktivitasnya. Sampai malam hari, kota Garut sunyi sepi seperti kota mati, penduduk diceram perasaan takut dan masing-masing menutup pintu rumahnya.Abu yang yang mengendap di Garut dan Tasikmalaya mencapai ketebalan dua sentimeter. Sedangkan arus lalulintas antara Bandung, Tasikmalaya , dan Garut mengalami kemacetan. Hal ini dikarenakan kendaraan yang melaju tidak bisa bergerak cepat akibat kaca-kaca mobil tertutup abu tebal.


Koresponden “Sinar Harapan” Eddy Padma yang segera menuju ke lokasi musibah melaporkan, bahwa Desa Linggajati di Kec.Indihiang merupakan desa yang paling parah menderita. Desa yang baru saja dimekarkan dan berpenduduk 4.000 jiwa itu hancur tertimbun batu-batuan dan lumpur panas. Tim SAR dan TNI AU yang berpangkalan di Lanud Cibeureum bersama masyarakat yang dikerahkan berhasil menyelamatkan seluruh penduduk desa, kecuali dua orang kakek yang melarikan diri,justru ke daerah yang berbahaya. Seorang kakek meninggal dunia.


Pada hari Selasa 6 April 1982, para pengungsi tercatat berjumlah sekitar 31.000 orang, sementara 24 kampung ditinggalkan penduduknya. Akibat letusan pertama Gunung Galunggung ini, sungguh tragis dan menyedihkan. Karena desa-desa hancur, rumah-rumah milik penduduk di Desa Linggarjati dan Desa Sinagar tampak berantakan, tanaman mengering, pesawahan timbun pasir, sungai-sungai tercemar oleh lahar dingin dan panas. Sementara itu, Gunung Galunggung terus terusan menyemburkan pasir, mengeluarkan asap dan tetap aktif.

Rabu pagi 7 April 1982 penduduk kembali khawatir. Karena dari anak Gunung Jadi tampak kepulan asap yang membubung tinggi ke angkasa, sedang aliran lumpur dan batu-batuan mulai memenuhi sungai dan jalan-jalan desa. Wartawan foto “Sinar Harapan” Totok Soesilo berhasil merekamnya secara dramatis, baik di lokasi terdekat dengan letusan Gunung Galunggung maupun di tempat-tempat pengungsian.


Selanjutnya tim wartawan “Sinar Harapan” yang terdiri dari H.A.Risnanto, Indra Rondonuwu, Totok Soesilo berikut koresponden Eddy Padmadisastra, Tjetje Hermawan dan Soemartono yang dikirim ke lokasi musibah melaporkan pandangan mata mengenai desa-desa yang terkena musibah.Demikian pula, banjir-banjir lumpur menyusul letusan pertama, membuat kampung Nyalindung dan Parakan Kawung (Desa Sukagalih), juga Desa Sukaratu serta Sungai Ciponyo tertimbun rata. Tak kurang 2.000 bangunan rumah di kampung-kampung sekitar kaki Gunung Galunggung menjadi korban,dan juga ribuan hektar tanaman ikut musnah.

Ketika berada di Desa Tawang Banteng, wartawan “Sinar Harapan” hari Kamis pagi 8 April 1982 masih melihat asap mengepul berwarna putih kegelapan. Penduduk dijaga ketat oleh aparat, agar mereka tidak memasuki daerah berbahaya, karena bau ‘gas’ belerang sudah semakin menyebar. Sungai-sungai dikabarkan berubah warna menjadi hitam pekat, juga dibebani lumpur dan sediment berbagau belerang. Di udik tampak kepulan asap keluar dari sungai yang dicemari lahar panas.

Sementara para kontestan Pemilu yang sedang melakukan kampenye di daerah bencana, akhirnya segera mengalirkan misinya dengan kampanye kemanusiaan, dengan cara menolong para korban bencana dan pengungsi.


Bantuan sudah berdatangan ketika berita musibah meletusnya Gunung Galunggung disiarkan di surat-surat kabar harian, termasuk TVRI dan RRI. Beras, pakaian, minyak tanah, tikar dan uang berdatangan untuk membantu para pengungsi korban bencana meletusnya gunung berapi ini. Bantuan ini berasal dari instansi resmi maupun masyarakat dari seluruh pelosok tanah air. Dari mulai Presiden HM Soeharto, Wakil Presiden, Departemen Sosial serta instansi masyarakat dan pribadi-pribadi mengirimkan bantuannya. Juga tak ketinggalan sejumlah menteri dan pejabat segera meninjau langsung ke lokasi bencana alam Gunung Galunggung.


MELETUS LAGI

Walau belum lagi reda kesibukan mengatur para pengungsi dan penduduk merenungkan korban yang meninggal dunia, tiba-tiba pada Kamis malamnya, daerah sekitar Gunung Galunggung digemparkan lagi oleh letusan yang lebih dhasyat dari sebelumnya. Bahkan, letusan pada Kamis malam ternyata tidak sekali, tetapi merupakan rangkaian letusan sampai pada hari Jum’at.

Sebenarnya, hari Kamis pagi, keadaan sudah kembali gawat dan memprihatinkan. Karena kepulan kepulan asap kelihatan pada kawah-kawah anak Gunung Galunggung. Benar saja, karena pada malam harinya terjadi serangkaian letusan bergetar ke suluruh penjuru. Api muncrat ke atas menerangi suasana malam beserta kepulan asap yang membubung tinggi ke angkasa. Batu-batu berloncatan dan kerikil bertaburan menimpa rumah-rumah penduduk yang masih berdiri.


Eddy Padma bersama tim wartawan “Sinar Harapan” yang datang ke hulu Sungai Cibanjaran pada Jum’at pagi melihat, jalur aliran sungai dipenuhi lahar panas. Pesawahan yang subur dan perkampungan di daerah itu menjadi rata disapu lahar panas. “Sejauh mata memandang hanya terlihat hamparan lumpur dengan batu-batuan yang terjal sementara tumbu-tumbuhan di sekitar hangus oleh sapuan lahar panas.”ungkap Eddy Padma seraya menyebutkan bahwa korban jiwa tercatat ada 9 orang.


Demikian pula ketika terjadi letusan pada Kamis malam itu, penduduk Kota Tasikmalaya menjadi panik, karena khawatir letusan Gunung Galunggung sampai ke pusat kota kabupaten. Apalagi ketika penduduk sedang menyaksikan acara TVRI pada pukul 21.06 tiba-tiba dikejutkan oleh ledakan yang keras dan bergemuruh. Bumi seakan bergetar dengan kekuatan 3,8 skala Richter. Ketika melihat ke luar rumah, kelihatan Gunung Galunggung menyemburkan kilatan api berwarna merah menyala, sehingga terjadi suasana hangar bingar. Penduduk pun hilir mudik untuk mencari perlindungan. Bahkan, mereka berbondong-bondong meninggalkan rumah masing-masing, memadati jalan-jalan kota. Kebanyakan mereka pergi menuju arah timur ke jurusan Ciamis.


Eddy Padma melaporkan, tercatat tidak kurang dari separuh penduduk kota Tasikmalaya yang berpenghuni sekitar 200.000 orang itu meninggalkan rumah, mengungsi di tengah-tengah siraman hujan pasir dan debu yang menambah kepanikan. Ribuan kendaraan bermotor mengangkut penduduk yang panik, antara lain bis, truk, sepeda motor bahkan dokar dan gerobak yang ditarik sapi. Akibatnya, arus lalulintas macet total, kendaraan hanya bisa berjalan merangkak. Bagi mereka yang tidak memiliki kendaraan terpaksa berjalan kaki sambil menenteng atau memikul barang apa saja yang bisa ‘dibawa’ diselamatkan, menyelurusi jalan berkilo-kilo meter tanpa arah tujuan.


Sekitar pukul 22.00 WIB, petugas Dinas Penerangan Pemda Tasikmalaya dengan mobil unitnya berkeliling kota, menyerukan agar penduduk tetap tenang dan tidak melakukan pengungsian secara besar-besaran. Juga pengumuman yang disiarkan melalui siaran radio. Namun, penduduk tidak menghiraukan seruan itu. Demikian pula, para pengungsi yang berada di lokasi pengungsian ikut panik begitu mendengar letusan dahdyat dari Gunung Galunggung. Dalam keadaan panik, mereka berteriak-teriak, menangis dan tidak menentu. “Kemana lagi mereka harus melarikan diri jika warga kota sendiri mengungsi?”

Sementara itu, hotel tempat rombongan Gubernur Jawa Barat H.Aang Kunaefi yang meninau musibah, segera ditinggalkan pemilik dan pelayannya yang turut melarikan diri untuk mengungsi. Beberapa anggota rombongan Gubernur Jabar, ternyata ikut-ikutan panik,mereka meninggalkan hotel bersama penduduk.


Pada hari Jum’at siang, akibat dari letusan Gunung Galunggung malam harinya tampak dengan jelas, batu-batu dan ketikil bergeletakan. Rumah-rumah rusak dan roboh.Kini lumpur dari gunung mengalir dengan deras, menggenangi sawah dan sungai. Bahkan, sungai yang mengalir ke desa-desa sekitar gunung hingga Kota Tasikmalaya dipenuhi lumpur yang tebal dan mengalir deras. Rumah-rumah penduduk di aliran sungai disapu lumpur bersama bangunan lain serta pohon-pohonan yang tumbuh di sekitar roboh, rusak dan mati.

Prof. Katili yang datang ke dekat lokasi bencana alam memperkirakan, bahwa kawah Gunung Jadi,anak Gunung Galunggung yang meletus diperkirakan mempunyai endapan tak kurang dari delapan juta kubik. Tapi untungnya, letusan gunung tidak terjadi sekaligus.”Kalau sampai letusan itu sekaligus dan endapan itu menjadi

cairan panas, maka tidak akan terhitung lagi berapa orang yang akan menjadi korban meninggal,”jelas Prof.Katili kepada pers.


Kini jumlah pengungsi di berbagai penampungan mencapai 63.625 orang. Jumlah ini terus bertambah mulai dari letusan pertama sampai hari Minggu.Para pengungsi sebanyak itu ditempatkan di 23 tempat penampungan yang jauh dari lokasi letusan dan dinilai aman. Bantuan makanan mulai berdatangan meski tersendat-sendat. Selama dalam pengungsian, banyak pengungsi yang bingung karena harus menjual apa yang dibawanya seperti ayam, domba, perhiasan dan lainnya

Pada Senin pagi, seminggu pasca letusan, Presiden RI HM Soeharto dan Bu Tien Soeharto meninjau ke Desa Mangunreja Kec.Singaparna. Selain menyerahkan bantuan berupa uang sebesar Rp.10 juta, Presiden HM Soeharto pun menganjurkan penduduk yang sudah tidak bisa menggarap lahan pertanian, agar bersedia bertransmigrasi terutama Pulau Sumatera.


Setelah kunjungan Presiden RI bersama rombongan pejabat, ternyata letusan Gunung Galunggung tidak berhenti sampai di situ. Beberapa waktu kemudian, gunung itu pun kembali menyemburkan isi perutnya. Bahkan, pada hari Senin tercatat tiga kali letusan dahsyat Awan berkepul laksana kena bom hydrogen.Akibat letusan-letusan berentet ini menyebabkan penduduk tidak bisa lagi pulang ke kampung halamannya. Mereka lebih memilih tinggal di lokasi pengungsian.


Sampai tanggal 15 April 1982, berdasarkan laporan Satkorlak Penanggulangan Bencana Alam yang diterima Eddy Padmadisastra, sedikitnya tercatat 15 orang meninggal dunia. Lima orang di antaranya meninggal dunia akibat tertimba batu dan terlibas lahar. Seorang korban ditemukan mati di sekitar Kampung Sinagar, tertimbun lumpur. Dengan wajahnya sudah tidak dikenal lagi karena hancur.


Kisah parah pengungsi sungguh sangat menyedihkan. Dan di antara isak tangis penderitaan para pengungsi itu, muncul berbagai kisah kemanusiaan, seperti lolosnya seorang petugas vulkanologi dari kepungan banjir lahar. Ruska Hadian, petugas vulkanologi yang tengah melakukan penelitian justru terkurung lahan selama empat hari empat malam. Syukurlah, ia akhirnya dapat keluar dari kepungan lahan dan kembali dengan selamat. Sementara di lokasi pengungsian, kisah cinta seorang gadis Maemunah dan pemuda Supardi justru meneruskan tekadnya untuk melangsungkan pernikahannya.


Selain itu, bayi-bayi pun banyak yang lahir dari ibu-ibu pengungsi. Tim kesehatan dikerahkan untuk menolong para pengungsi yang sakit, termasuk tim dari PMI. Selain makanan, obat-obatan serta pakaian, sebenarnya mereka membutuhkan sesuatu yang lebih bermanfaat; yakni bedeng-bedeng tempat mereka tinggal untuk sementara, karena selama ini mereka hanya ditampung di tenda-tenda darurat milik ABRI. Sebagian besar masih mengungsi di gedung-gedung sekolah, kantor dan lainnya. Sedangkan sebagian lagi, ada yang tinggal di tenda-tenda dan gubuk-gubuk darurat yang tidak memenuhi syarat kesehatan


Pada hari Selasa 20 April, Eddy Padma melaporkan ke Redaksi “Sinar Harapan” bahwa letusan Gunung Galunggung kembali terdengar. Gunung ini seperti tak mau berhenti untuk memuntahkan kemarahannya. Juga pada Minggu dini hari 25 April, Gunung Galunggung kembali meletus, bahkan lebih dahsyat dari letusan-letusan sebelumnya. Namun, letusan yang menggelegar, api yang muncrat, asap yang tinggi disertai pasir dan debu yang menyebar ke sepanjangan kawasan 100 km, kini tidak membuat kepanikan bagi penduduk. Bahkan, penduduk Tasikmalaya keluar rumah bukan untuk mengungsi, melainkan menonton kilatan api yang disemburkan gunung bagaikan kembang api raksasa. Kali ini, musibah letusan disusul dengan musibah lahar dingin berupa lumpur yang mengalir dari puncak gunung.


Selanjutnya pada Kamis petang 29 April, koresponden “Sinar Harapan” Eddy Padmadisastra melaporkan, tercatat sebanyak 58 rumah hancur dilanda lahar dingin bercampur batu besar yang bergaris tengah sekitar 3 meter. Selain banyak rumah yang hanyut terbawa lumpur dan sebagian lagi tertimbun lahar dingin.

Bagi penduduk yang berada di kawasan lereng Gunung Galunggung, bahwa April 1982 merupakan musibah yang bertubi-tubi dan penuh penderitaan. Apakah penderitaan berhenti pada bulan April ini saja? Apakah Gunung Galunggung tak akan meletus lagi?


Pertanyaan itu senantiasa melanda di lubuk hati penduduk di sekitar Gunung Galunggung yang tengah berada di tempat penampungan pengungsi. Syukurlah, manusia-manusia yang hidup jauh dari daerah musibah terketuk hatinya untuk membantu penderitaan mereka. Karena itu, sumbangan-sumbangan berdatangan, juga peninjauan regu-regu kesehatan berkunjung, misalnya tim kesehatan dari UKI (Universitas Kristen Indonesia) yang menggarap kesehatan pengungsi yang kebanyakan menderita radang snafas, di samping penyakit-penyakit lainnya.


Demikian pula, para pembaca “Sinar Harapan” berdatangan tak putus-putusnya ke meja redaksi untuk menyumbang. Dengan membludaknya sumbangan tersebut, maka “Sinar Harapan” membuka dompet amal bagi pengungsi Gunung Galunggung mulai tanggal 12 April.

Luar negeri pun menaruh perhatian besar pada musibah meletusnya Gunung Galunggung yang tiada hentinya itu. Badan untuk penanggulangan bencana alam dunia (PBB) segera mengirimkan bantuan tenaga ahli untuk meneliti. Berdasarkan laporan ANDRO, bahwa musibah akibat letusan Gunung


Galunggung di Jawa Barat merupakan musibah terparah di dunia.

Setelah dianjurkan Presiden Soeharto, gelombang transmigrasi ke daerah harapan baru mulai berlangsung. Pada tanggal 26 April, sebanyak 232 jiwa terdiri dari 55 kepala keluarga (KK) diberangkatkan dari Lapangan Udara Cibeureum dengan menggunakan pesawat terbang Transal ke Sumatera Selatan. Dalam rombongan transmigrasi tersebut, koresponden “Sinar Harapan” Eddy Padmadisastra ikut ke Sumatera Selatan untuk meliput peristiwa bersejarah ini.


Gunung Galunggung benar-benar murka! Betapa tidak, karena pada Kamis 6 Mei 1982, Gunung Galunggung kembali memperlihatkan kemurkaannya. Letusan kali ini, hujan abu tak hanya mencapai Bandung, tapi juga sampai ke kota-kota lainnya bahkan hingga ke negara Australia. Keesokan harinya, Jum’at 7 Mei, penduduk di Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Sumedang dan lainnya disibukkan dengan menyapu pasir dan debu yang menutipi halaman rumah maupun jalan-jalan sampai ketebalan beberapa sentimeter. Pada sisi

lain, keadaan pengungsi di sejumlah tempat penampungan pengungsi makin parah saja. Bahkan pada 12 Mei ada dua orang meninggal dunia, sedangkan pengungsi lain menderita sakit mencret, saluran pernafasan, dan sakit mata.

S

UMBANGAN PEMBACA SINAR HARAPAN

Sabtu 8 Mei 1982, rombongan Tim “Sinar Group” yang menerbitkan surat kabar “Sinar Harapan” berkunjung ke Tasikmalaya, membawa pesan dan sumbangan pembacanya langsung ke daerah musibah, terutama ke lokasi penampungan pengungsi.

Rombongan tim Sinar Group dipimpin langsung oleh Pemimpin Umum “Sinar Harapan” H.G.Rorimpandey sendiri. Iring-iringan kendaraan yang membawa bantuan dari pembaca setia “Sinar Harapan” berupa makanan, pakaian dan uang bersafari dari Jakarta menuju Gunung Galunggung khususmya. Tim safari pertama “Sinar Group” terdiri dari para karyawan, wartawan, tim medis dan sukarelawan-sukarelawan mahasiswa ASMI. Sumbangan pertama terdiri dari 310 karton susu bubuk, 6 ton beras. Sebanyak 3.200 helai sarung, obat-obatan dan uang untuk pembuatan bedeng-bedeng pengungsi.

Acara resmi penyerahan bantuan dari pembaca “Sinar Harapan” secara simbolis dilangsungkan di kantor Pemda Kabupaten Tasikmalaya oleh H.G.Rorimpandey Kepada Bupati Tasikmalaya H.Hoedly Bambang Aruman Setelah itu, tim langsung menuju daerah-daerah musibah dan tempat tempat pengungsian. Secara langsung mereka membagikan sebanyak 7.740 kaleng susu bubuk, beras dan sarung. Sementara tim medis dan mahasiswa-mahasiswi ASMI melakukan kerja social membantu penduduk.


Dompet Galunggung yang dibuka Sinar Harapan pada 12 April mendapat perhatian sangat besar dari pembaca. Setiap hari,para penyumbang berdatangan ke kantor redaksi baik dari Jakarta maupun dari luar kota. Sampai hari penutupan, bantuan uang dari pembaca

yang terkumpul sebanyak Rp.139.807.212 di samping beras, pakaian bekas, obat-obatan, mie instant dan lainnya.


Gelombang demi gelombang sumbangan diantarkan sendiri oleh anggota-anggota “Sinar Group”. Gelombang kedua bantuan pembaca “Sinar Harapan” bergerak ke lokasi musibah dipimpin langsung oleh Pemimpin Redaksi Soebagyo Pr. Kemudian bedeng-bedeng hasil sumbangan pembaca Sinar Harapan segara dibangun, dengan kerangka besi dan tembok merupakan suatu kontruksi yang baik, cocok untuk daerah musibah dan memenuhi syarat kesehatan. Untuk mereka telah diselesaikan sebanyak 28 bedeng dan dua gedung serbaguna dengan seuah kendaraan lengkap dengan pengeras suara. Eddy Padmadisastra sebagai koresponden Sinar Harapan tentu saja sibuk membantu di samping melakukan laporan beritanya.


KUMAT KEMBALI

Senin 17 Mei Gunung Galunggung kembali kumat. Pada malam itu, Eddy Padmadisastra melaporkan, terdengar gelegar yang dahsyat dan api muncrat ke angkasa. Namun, letusan yang lebih dahsyat terjadi pada Selasa pagi hari sekitar pukul 05.20 WIB.

“Kalau malamnya, bola-bola api seperti ditembakkan ke angkasa, maka pada subuh terdengar suara gemuruh disertai semburan kerikil sebesar telur ayam dan hujan pasir. Kerikil-kerikil itu berjatuhan sampai ke desa-desa tempat penduduk mengungsi menyebabkan rumah-rumah rusak dan pengungsi luka-luka.”lapornya.

Informasi yang diperoleh, bahwa hujan batu dan pasir sampai ke kota Tasikmalaya, Ciamis, Banjar hingga Majelang (Jawa Tengah), juga kota Garut. Pada saat hujan batu itu banyak kaca-kaca pecah, bahkan kaca mobil yang tebal, juga tidak tahan menahan hantaman hujan batu dan kerikil hingga berlobang-lobang.


Semua kampung dekat Gunung Galunggung, terutama Pasir Ngempong terbakar habis akibat rembesan awan panas. Sampai pukul 10.30 WIB hari Senin itu, kota Tasikmalaya bagaikan malam hari akibat hujan debu yang dahsyat. Kendaraan bermotor melintas dengan menyalakan lampu . Kabut abu dari Gunung Galunggung terbawa sampai ke Cilacap (Jawa Tengah) yang berjarak sekitar 150 km dari Tasikmalaya.


Rentetan letusan Gunung Galunggung terus berlangsung, terutama Selasa (18 Mei) siang pukul 13.20 WIB terjadi letusan, dan malam harinya terjadi gempa disusul dengan letusan yang dhasyat. Tim Sinar Harapan yang terdiri dari Tjetje Hermawan, Eddy Padmadisastra dan Totok Soesilo menyaksikan sendiri kemurkaan Gunung Galunggung ketika berada di pos terdepan Cikasasah.Suasana bagaikan neraka yang bergerak. Karena semburan dan percikan api serta asap muncrat ke angkasa sekitar 1,5 km.


Keesokan harinya, hujan abu bukan hanya menyebar di daerah sekitar gunung,melainkan menyebar luas sampai ke Yogyakarta dan kota lainnya di Jawa Tengah. Sejak saat itu terjadi serangkaian-serangkaian letusan lagi yang berlangsung terus menerus. Dalam kondisi demikian, penduduk yang menjadi korban bencana alam tersebut sudah tidak mengharapkan lagi untuk kembali ke desa-desa di lereng gunung. Karena menurut ramalan para ahli vulkanologi dan akhirnya menjadi kenyataan, bahwa Gunung Galunggung tidak akan berhenti meletus sampai beberapa bulan lamanya Letusan sporadis pun silih berganti.


Dengan demikian, arus transmigrasiyang dikoordinir pemerintah berlangsung terus, diantaranya mereka menjalani hidup baru di Bengkulu, Sumatera Barat dan Sumatera Selatan. KERUGIAN BESAR Gunung Galunggung yang meletus dahsyat memang merupakan topik pembicaraan yang ramai dimana-mana, termasuk di luar negeri. Karena hampir setahun lamanya, gunung yang berada di sebelah barat Tasikmalaya itu meletus terus-menerus,selang-seling beberapa waktu.Ada yang berlangsung berkali-kali dalam waktu semalam. Ada kalanya diam selama seminggu,dua minggu, kemudian meletus lagi dan seterusnya. Gunung Galunggung pun menjadi kian populer dan bahkan memunculkan kesenian-kesenian.Operet dipimpin Titiek Puspa dalam TVRI di malam Lebaran menyuguhkan kisah meletusnya Gunung Galunggung berikut suasana pengungsinya di tempat pengungsian.


Sejumlah pelukis mendapat ilham dari gunung yang murka ini. Juga tak mau ketinggalan para fotografer professional maupun amatir dapat mengabadikan foto-foto yang menarik. Bahkan dalam dunia klenik muncul berbagai kisah fantasi yang tak masuk akal. Eddy Padma di surat kabar “Sinar Harapan” memberitakan, bahwa musibah bencana alam meletusnya Gunung Galunggung telah menyebabkan kerugian yang sangat besar.


Bukan saja korban jiwa berjatuhan, harta benda hilang, juga penyakit menyebar ke seluruh kawasan yang terkena bencana alam. Akibat masa paceklik yang ditimbulkan, maka diperkirakan sejumlah 189.781 jiwa tercatat rawan pangan. Berdasarkan catatan Budhi, salah seorang Satgas Penanggulangan Pengungsi Gunung Galunggung PMI, bahwa untuk menanggulangi penduduk rawan pangan dibutuhkan tak kurang dari Rp.300 juta setiap bulan. Jumlah kerugian akibat bencana alam Gunung Galunggung meletus yang tercatat sampai 3 Agustus 1982 itu diperkirakan mencapai Rp.29,591 miliar. Ini meliputi kerugian di bidang ekonomi, bangunan dan pendapatan daerah. Bupati Tasikmalaya yang saat itu dijabat H.Hoedly Bambang Aruman kepada Eddy Padmadisastra menjelaskan, ia mencatat letusan besar sejak 5 April sampai awal September 1982, yakni sebanyak 26 kali letusan besar. Ini belum termasuk letusan-letusan sekunder yang menyebabkan malapetaka.Penduduk yang berada di kawasan kaki Gunung Galunggung yang ditransmigrasikan sampai awal September 1982, menurut Bupati Tasik, tercatat sebanyak 1.277 KK yang terdiri dari 4.967 jiwa.


Karena peristiwa meletusnya Gunung Galunggung menghebohkan dunia saat itu, maka “Sinar Harapan” sempat menurunkan dan menugaskan sejumlah wartawannya untuk membantu tugas peliputan yang dilakukan Eddy Padmadisastra antara lain: Totok Soesilo, H.A.Risnanto, Indra Rondonuwu, Bachtiar Sitanggang, Laurens Samsuri, Sarwoto, RA Soenartono, Rheinhard Simanjuntak, John Rumokoy, Jennifer Marinka, Enderson Tampubolon, Vera Indrasuwito, Bambang Setyo dan seorang koresponden dari Pematang Siantar Sumatera Utara di samping koresponden Tjetje Hermawan. “ Pada peristiwa meletusnya Gunung Galunggung itulah, jajaran Redaksi Sinar Harapan ikut membantu tugas peliputan berita yang saya lakukan dalamkurun waktu yang cukup lama,” papar Eddy Padma.**sumber.



<<= Menghilangkan Notifikasi Windows Activation di Windows 7

No comments:

Post a Comment